Kritik Terbuka Prabowo atas Kebocoran Anggaran Pendidikan
Pada acara Pembekalan Guru dan Kepala Sekolah Rakyat di JI-Expo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat 22 Agustus 2025, Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan keprihatinannya terhadap kebocoran anggaran pendidikan meski jumlah alokasinya tergolong sangat besar. “Jangan terlalu cepat tepuk tangan. Anggaran kita besar. Tapi masih besar pula kebocoran, kebocoran, kebocoran,” tegas Prabowo di hadapan para pendidik.
Besarnya Alokasi Anggaran Pendidikan di Indonesia
Indonesia menempati posisi salah satu negara dengan anggaran pendidikan terbesar di dunia. Setiap tahun, pemerintah menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk membiayai berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi. Menurut Data APBN 2025, anggaran pendidikan mencapai lebih dari 500 triliun rupiah, mencakup dana BOS, tunjangan profesi guru, pembangunan infrastruktur sekolah, serta beasiswa.
Mekanisme Alokasi dan Penyaluran Dana
Secara garis besar, alur penyaluran dana pendidikan mengalir dari Kementerian Keuangan ke Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, kemudian diteruskan ke dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota. Di tingkat sekolah, dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dicairkan melalui rekening kas sekolah, sedangkan tunjangan profesi dan alokasi untuk rehab gedung dikelola oleh dinas setempat.
Faktor Penyebab Kebocoran Anggaran
- Korupsi dan mark-up
Penambahan harga barang dan jasa yang sebenarnya tidak sesuai spesifikasi kerap terjadi di tingkat pengadaan sekolah, sehingga dana tersedot untuk keuntungan pribadi.
- Proses administrasi lemah
Dokumen pertanggungjawaban sering tidak lengkap atau dipalsukan, sehingga audit internal tidak dapat menelusuri penggunaan dana secara akurat.
- Kurangnya transparansi
Pemerintah daerah belum menerapkan sistem publikasi real-time atas penggunaan anggaran, membuat masyarakat sulit memantau dana yang masuk dan keluar.
- Pengawasan minim
Sanksi terhadap pejabat daerah yang terbukti menyalahgunakan dana masih terkesan ringan, sehingga tidak memberikan efek jera.
Dampak Langsung pada Sekolah dan Guru
- Keterlambatan pencairan tunjangan
Banyak guru yang mengaku menerima tunjangan profesi berbulan-bulan setelah seharusnya cair, memengaruhi motivasi dan kesejahteraan mereka.
- Fasilitas sekolah buruk
Pengerjaan renovasi ruang kelas, laboratorium, dan toilet kerap tertunda karena dana habis tersedot sebelum proyek dimulai.
- Kualitas pembelajaran menurun
Kurangnya buku ajar, alat peraga, dan sarana teknologi membuat proses belajar mengajar tidak maksimal.
Upaya Pemerintah untuk Memperbaiki
- Penerapan e-budgeting
Sistem penganggaran elektronik diharapkan meningkatkan transparansi dan memudahkan pelacakan setiap transaksi dana.
- Audit berkala
Kementerian Pendidikan berencana melakukan audit internal dan eksternal setiap semester untuk mengidentifikasi potensi kebocoran.
- Pelibatan masyarakat
Komite sekolah dan masyarakat setempat diminta aktif memantau program penggunaan dana BOS melalui laporan langsung ke dinas.
- Penegakan hukum tegas
KPK dan aparat penegak hukum lainnya diminta mempercepat penanganan kasus korupsi anggaran pendidikan dengan sanksi berat.
Perbandingan dengan Negara Tetangga
Beberapa negara di kawasan ASEAN seperti Malaysia dan Filipina telah menerapkan sistem e-audit dan portal publik untuk dana pendidikan. Hasilnya, tingkat kebocoran menurun secara signifikan hingga 20% dalam dua tahun terakhir. Indonesia dapat mencontoh mekanisme pelaporan terbuka dan sanksi administratif yang lebih tegas.
Pentingnya Kerjasama Lintas Pemangku Kepentingan
Keberhasilan reformasi anggaran pendidikan tidak hanya bergantung pada pemerintah pusat, tetapi juga sinergi antara kementerian, pemerintah daerah, lembaga penegak hukum, serta keterlibatan aktif guru dan masyarakat. “Saudara-saudara di daerah lebih tahu masalah ini daripada kami-kami di Jakarta. Hangusnya di mana? Menghilangnya di mana?” ujar Prabowo, mengajak semua pihak bersinergi untuk mengungkap titik-titik kebocoran.
Aksi Nyata di Lapangan
Beberapa dinas pendidikan kabupaten telah memulai pilot project dengan mengunggah realisasi dana BOS di website resmi mereka. Beberapa sekolah juga menampilkan papan informasi tentang penggunaan dana di area publik. Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen awal, meski perlu diperluas di seluruh wilayah Indonesia.
Harapan Reformasi Anggaran Pendidikan
Dengan alokasi anggaran yang memadai, Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan menyiapkan generasi unggul. Namun, tanpa perbaikan serius dalam pengelolaan dan pengawasan dana, potensi tersebut akan tertahan oleh kebocoran berulang. Ke depan, transformasi teknologi, keterbukaan informasi, dan penegakan hukum yang konsisten menjadi kunci menutup celah kebocoran dan menjamin tiap rupiah anggaran benar-benar bermanfaat bagi kualitas pendidikan anak bangsa.