Erick Thohir Bongkar Rencana: Domino Bisa Jadi Mesin Uang Baru di Industri Olahraga Indonesia — Begini Caranya

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir mendorong Domino untuk dimatangkan sebagai bagian dari sport industry Indonesia. Dalam pelantikan pengurus provinsi Federasi Olahraga Domino Nasional (Orado) di Jakarta, Erick menekankan bahwa pengembangan olahraga tidak sekadar soal prestasi atau medali, melainkan juga peluang ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Pernyataan ini membuka ruang diskusi serius: bisakah permainan tradisional seperti domino menjadi komoditas ekonomi dalam ekosistem olahraga modern?

Potensi ekonomi sport industry yang besar

Erick memaparkan gambaran besarnya: nilai sport industry global diperkirakan mencapai angka yang sangat signifikan dengan laju pertumbuhan tahunan sekitar delapan persen. Dalam ekosistem itu, beberapa negara berhasil mengkomersialkan cabang olahraganya sehingga menjadi industri bernilai tinggi—seperti AS dengan basket dan NFL, Inggris dengan sepak bola, atau India dengan kriket. Jika dikelola dengan baik, domino pun punya peluang untuk masuk dalam rantai ekonomi tersebut.

Mekanisme nilai tambah domino sebagai industri

Agar domino bertransformasi dari permainan rakyat menjadi bagian dari sport industry, sejumlah elemen harus dibangun secara sistematis:

  • Organisasi dan tata kelola yang profesional (standarisasi aturan, kategori kompetisi, lisensi wasit).
  • Pembentukan ekosistem kompetisi (kejuaraan regional, nasional, hingga internasional) yang menarik sponsor dan penonton.
  • Pengembangan konten dan hiburan (siaran streaming, format turnamen yang menghibur, storytelling pemain).
  • Produk pendukung: merchandise, paket pelatihan berbayar, serta kerja sama dengan platform digital untuk monetisasi pertandingan.
  • Struktur perputaran dana yang realistis

    Erick menegaskan bahwa kontribusi pemerintah biasanya hanya 10–15 persen dari keseluruhan ekosistem; sisanya datang dari investasi swasta dan perputaran ekonomi di sekitar kegiatan olahraga itu sendiri. Dalam konteks domino, artinya penguatan hubungan dengan sponsor, media, dan pelaku pariwisata lokal menjadi kunci untuk menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan—mulai dari pemasukan tiket, hak siar, hingga penjualan merchandise dan aktivitas pendukung seperti workshop atau tur kompetisi.

    Nilai kultural dan basis massa sebagai modal utama

    Domino bukan olahraga baru di Indonesia: permainan ini telah menjadi bagian dari kehidupan sosial di banyak komunitas. Keunggulan ini memberi modal kultural yang kuat untuk pengembangan industri—adanya basis pemain amatir yang besar, tradisi kompetisi lokal, dan daya tarik multigenerasi. Jika dikemas rapi, nilai tradisi ini bisa menjadi produk budaya yang menarik sponsor dan audiens modern.

    Tantangan profesionalisasi dan regulasi

    Transformasi domino bukan tanpa tantangan. Beberapa isu yang harus diatasi:

  • Standarisasi kompetisi: penentuan kategori usia, format pertandingan, dan regulasi anti‑kecurangan.
  • Persepsi publik: mengubah citra domino dari permainan santai menjadi olahraga profesional memerlukan pendidikan publik dan kampanye pemasaran yang efektif.
  • Fasilitas dan infrastruktur: penyediaan arena, sistem skor digital, dan platform broadcasting yang layak.
  • Peluang doping atau match‑fixing: perlu sistem pengawasan dan kode etik yang tegas.
  • Model bisnis yang bisa diuji coba

    Beberapa model bisnis nyata dapat dieksplorasi untuk menjadikan domino ekonomis:

  • Turnamen berhadiah dengan level berjenjang (regional → nasional → internasional), yang menarik sponsor dan hak siar.
  • Model liga domestik dengan jadwal reguler dan klub‑klub yang bisa beroperasi secara profesional.
  • Konten digital berbayar: highlight pertandingan, profil pemain, dan kelas master online untuk monetisasi global.
  • Kolaborasi pariwisata: festival domino yang menggabungkan pariwisata lokal, hiburan dan kompetisi sebagai daya tarik wisata.
  • Peran Orado sebagai payung organisasi

    Hadirnya Orado sebagai federasi nasional menjadi langkah fundamental. Orado bisa menjadi entitas yang menyusun standar kompetisi, mengatur lisensi, dan merespons kebutuhan sponsor serta media. Jika berjalan baik, Orado berpotensi mengkoordinasikan pengembangan grassroot hingga elite, membuka jalur talenta, dan membangun jalur pendanaan yang berkelanjutan.

    Pelatihan, pembinaan dan talenta

    Untuk memastikan kualitas pertandingan dan profesionalisme, program pembinaan pemain harus diinisiasi sedini mungkin. Pelatihan teknis, pengembangan mental, manajemen tim, dan keterampilan media adalah aspek penting. Pembentukan akademi domino di beberapa provinsi dapat menjadi laboratorium talenta yang menghasilkan atlet kompetitif dan figur publik yang dapat menarik perhatian sponsor.

    Potensi sport tourism dan multiplier effect

    Turnamen domino berskala besar dapat menjadi magnet sport tourism: pengunjung dari dalam dan luar negeri datang, menginap di hotel lokal, berbelanja, dan menghabiskan uang di destinasi tuan rumah. Dampaknya berlipat bagi ekonomi lokal, termasuk jasa perhotelan, kuliner, transportasi, dan UMKM yang menyediakan merchandise atau produk pendukung acara.

    Langkah praktis yang bisa segera diambil

  • Menyusun roadmap nasional pengembangan domino yang melibatkan pemerintah, Orado, sponsor, dan media.
  • Memulai pilot project turnamen dengan hak siar digital dan sponsor lokal untuk membuktikan model bisnis.
  • Meluncurkan program pembinaan usia dini dan kompetisi sekolah untuk memperkuat basis pemain.
  • Membangun standar integritas pertandingan dan mekanisme pengawasan anti‑kecurangan.
  • Pendorongan Erick Thohir menempatkan domino pada persimpangan menarik antara budaya populer dan peluang ekonomi. Jika Orado dan pemangku kepentingan memainkan peran mereka dengan strategi terukur—menggabungkan profesionalisasi, pemasaran, dan integritas—domino berpeluang berkembang dari permainan rakyat menjadi bagian nyata dari sport industry Indonesia, menciptakan lapangan kerja, memicu ekonomi lokal, dan membuka jalan bagi inovasi olahraga nasional.