Toprak Razgatlıoğlu tiba di Indonesia disambut seperti pahlawan—bukan tanpa alasan. Juara dunia WorldSBK yang kini berstatus rookie MotoGP 2026 ini membawa serta kenangan manis dari Mandalika, sirkuit yang telah memberinya gelar dunia pada 2021. Kedatangan Toprak di Jakarta bagian dari rangkaian acara Yamaha menjelang peluncuran livery tim MotoGP musim 2026, namun yang paling menarik bagi publik tanah air adalah pengakuannya: ia siap mengubah gaya balap demi bisa bersaing di level MotoGP.
Perbedaan motor: dari Superbike ke MotoGP
Toprak secara gamblang menyatakan bahwa tantangan terbesarnya adalah adaptasi pada karakter motor MotoGP, yang berbeda drastis dibandingkan superbike. Di WorldSBK, ia terbiasa dengan mesin besar yang menuntut banyak “stop‑and‑go”—pengereman kuat dan akselerasi berat—sedangkan di MotoGP, kecepatan menikung dan fluiditas di tikungan menjadi kunci. Perbedaan ini bukan sekadar soal angka tenaga, melainkan tentang gaya berkendara, titik pengereman, dan cara membuka gas keluar tikungan.
Sebagai pembalap yang dikenal sangat agresif dalam pengereman, Toprak menyadari bahwa ia harus melakukan penyesuaian teknis pada gaya balapnya. Teknik late braking yang selama ini menjadi ciri khasnya di WorldSBK mungkin perlu dikurangi demi menjaga kestabilan masuk tikungan pada motor MotoGP yang jauh lebih sensitif terhadap beban lateral dan traksi ban.
Rencana adaptasi: apa yang perlu diubah?
Adaptasi Toprak akan mencakup beberapa aspek konkret :
Adaptasi ini butuh waktu, latihan khusus dan umpan balik konstan dari test shakedown dan tes resmi. Toprak sendiri akan menjalani shakedown di Sepang pada akhir Januari, lalu tes resmi MotoGP awal Februari—momen krusial untuk cepat mengumpulkan data dan merasakan batas motor.
Mandalika: memori berharga dan motivasi
Mandalika bukan sekadar sirkuit bagi Toprak, melainkan tempat bersejarah: di sana ia menutup musim WorldSBK 2021 dengan gelar juara dunia pertamanya. Kenangan itu tetap hidup dan berfungsi sebagai sumber motivasi saat memasuki tantangan baru. Dukungan fanbase Indonesia, yang dikenal vokal dan antusias, menjadi faktor emosional signifikan yang bisa memberi energi ekstra saat adaptasi di tahap awal.
Agenda dan target jangka pendek
Dari Jakarta, Toprak akan terbang ke Sepang untuk mengikuti Shakedown Test (29–31 Januari), dilanjutkan tes resmi MotoGP (3–5 Februari). Dalam jangka pendek, target realistis adalah:
Target hasil di tes bukan semata‑mata waktu putaran, melainkan progres konsistensi, kenyamanan di motor, dan kemampuan beradaptasi dengan tim teknis dalam waktu singkat.
Teknis: bagaimana tim mendukung transisi
Peran tim pabrikan dan kru teknis menjadi krusial. Di MotoGP, integrasi antara rider feedback dan parameter elektronik jauh lebih intens dibanding Superbike. Toprak harus belajar bekerja dengan traction control, engine braking mapping, wheelie control dan other aids yang di MotoGP jauh lebih berat penggunaan dan penyetelannya. Pramac Yamaha harus menerjemahkan gaya Toprak ke dalam setup yang memungkinkan dia tetap agresif namun tidak “overload” elektronik yang bisa memutuskan performa.
Aspek mental: tekanan baru dan ekspektasi
Pindah ke MotoGP berarti menghadapi level tekanan yang berbeda: sorotan media lebih besar, ekspektasi sponsor dan tim yang tinggi, serta lawan yang teknis dan berpengalaman di grid MotoGP. Toprak menyebut butuh waktu untuk belajar, dan meminta dukungan fans Indonesia—sebuah pengakuan realistis soal kebutuhan dukungan emosional untuk mempercepat proses adaptasi.
Kesimpulan sementara: peluang dan risiko
Bagi penggemar balap di Indonesia, kehadiran Toprak di sirkuit lokal dan proses adaptasinya ke MotoGP menjadi cerita menarik untuk diikuti. Hidupkan kembali memori Mandalika 2021 — kini sebagai motivasi baru — dan saksikan bagaimana juara WorldSBK mencoba menaklukkan puncak baru di dunia MotoGP.
