“Setannya Cuan” Siap Tayang Setelah 7 Tahun: Kisah Panjang di Balik Film dan Kenapa Ini Relevan
Setelah tertunda hampir tujuh tahun, film berlabel horor-komedi “Setannya Cuan” akhirnya resmi siap menyapa penonton Indonesia. Kabar ini disampaikan langsung oleh Aming, komedian sekaligus salah satu pemain utama, yang menyatakan rasa syukurnya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan. Proses panjang produksi, perubahan judul, dan penyesuaian tema membuat film ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga refleksi tentang bagaimana industri perfilman beradaptasi dengan perubahan zaman dan selera penonton.
Jejak produksi: dari 2019 hingga rilis 2026
Syuting “Setannya Cuan” berlangsung jauh sebelum pandemi COVID-19, sekitar tahun 2019. Namun, berbagai faktor membuat rilisnya molor hingga hampir tujuh tahun. Penundaan ini bukan unik di dunia perfilman Indonesia; konflik jadwal, masalah pendanaan, revisi kreatif, hingga dinamika pasar bisa mempengaruhi jadwal rilis. Dalam kasus ini, tim produksi memilih untuk menunda demi menyempurnakan konsep dan menyesuaikannya dengan konteks sosial yang berubah.
Dari “Jurig Salawe” ke “Setannya Cuan”: perubahan judul bermakna
Judul awal “Jurig Salawe” mengindikasikan keterikatan kuat pada legenda urban Sunda. Namun selama perjalanan produksi, tim kreatif memutuskan mengganti judul menjadi “Setannya Cuan” — sebuah pilihan yang tak hanya bersifat pemasaran, tetapi juga tematik. Perubahan ini menandakan pergeseran fokus dari mitos murni ke pendekatan yang mengaitkan horor tradisional dengan keresahan kontemporer: obsesi terhadap uang dan tekanan ekonomi.
Dengan judul baru, film ini menempatkan unsur supranatural sebagai metafora: bukan semata-sosok menakutkan, melainkan cerminan dari ambisi instan dan ketakutan modern yang dirasakan banyak orang. Gaya ini memungkinkan penonton mengenali elemen horor sekaligus melihat kritik sosial yang halus.
Pendekatan tematik: ketika dompet kosong lebih menakutkan dari penampakan
Menurut keterangan sutradara Sahrul Gibran (bekerja bersama Jay Sukmo), “Setannya Cuan” mengusung gagasan bahwa ketakutan sehari-hari — kelangkaan finansial, utang, tekanan hidup — bisa lebih menghantui daripada bayangan di pepohonan. Film memakai elemen horor untuk menyampaikan ironi kehidupan modern: ambisi cepat kaya, godaan solusi instan, dan biaya psikologis dari ketidakpastian ekonomi.
Peran Aming dan karakterisasi: tukang sayur dengan nuansa komedi
Aminings’ portrayal sebagai tukang sayur menambah warna komedi sekaligus kedekatan cerita dengan realitas masyarakat. Ia mengingat masa syuting saat tubuhnya masih “lebih kurus”, menandakan waktu berlalu sejak pembuatan awal. Peran semacam ini memiliki potensi kuat untuk menyerap empati penonton karena sosok tukang sayur mewakili kehidupan rakyat kecil yang kerap berjuang dengan ketidakpastian ekonomi.
Relevansi genre horor-komedi di era sekarang
Horor-komedi bukan sekadar tren; ia menawarkan medium untuk menyajikan pesan-pesan serius dengan cara yang menghibur. Di Indonesia, genre ini efektif karena mampu merangkul berbagai segmen audiens—mereka yang mencari ketegangan, serta penonton yang ingin tertawa sambil direnung. “Setannya Cuan” tampak memanfaatkan format ini untuk menggabungkan sensitivitas budaya lokal (legenda Sunda) dengan isu nasional (tekankan ekonomi dan konsumerisme).
Strategi rilis dan tantangan pemasaran
Mengingat perjalanan panjang proyek ini, tim pemasaran perlu merekonstruksi strategi: bagaimana menggaet penonton yang mungkin telah melupakan kabar film; bagaimana memposisikan ulang film agar relevan dengan percakapan sosial saat ini; dan bagaimana memanfaatkan nama-nama publik figur seperti Aming untuk menarik perhatian. Selain itu, pertimbangan waktu rilis (musim liburan, persaingan tayang) akan berpengaruh besar terhadap performa box office.
Potensi penerimaan publik dan kritik
“Setannya Cuan” berpotensi menarik penonton luas bila eksekusi sinematik dan keseimbangan komedi-horor terjaga. Kritikus kemungkinan akan memperhatikan seberapa efektif film menyampaikan kritik sosial tanpa kehilangan hiburan. Selain itu, penonton dari wilayah asal legenda (Sunda) mungkin memberi perspektif unik terkait representasi budaya dan sensitivitas lokal.
Apa yang perlu diperhatikan penonton
Penutup singkat mengenai momentum rilis
Kembalinya “Setannya Cuan” ke layar lebar menandai akhir dari sebuah perjalanan kreatif panjang — sekaligus membuka ruang diskusi tentang cara perfilman nasional merespons perubahan sosial. Untuk penonton, film ini menawarkan tontonan menghibur yang sekaligus mengusik soal apa yang benar-benar menakutkan di kehidupan modern.
