Menjelang arus mudik Lebaran 2026, Kepolisian Republik Indonesia melalui Korps Lalu Lintas (Korlantas Polri) memperkenalkan kebijakan baru yang menempatkan keselamatan penumpang sebagai prioritas utama: pemeriksaan kesehatan pengemudi angkutan umum, termasuk tes urine wajib bagi sopir bus dan travel yang mengangkut pemudik. Langkah ini disampaikan oleh Kepala Korlantas, Irjen Pol. Agus Suryonugroho, dan akan diterapkan dalam skema checkpoint terpadu di titik‑titik strategis sepanjang jalur mudik di Pulau Jawa dan Sumatra.
Tujuan dan ruang lingkup pemeriksaan
Inti dari kebijakan ini adalah mencegah faktor manusia—selain kondisi teknis kendaraan—menjadi penyebab kecelakaan saat puncak arus mudik. Pemeriksaan tidak hanya menyasar kelayakan teknis armada yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan, tetapi juga memastikan kesehatan fisik dan kebersihan mental pengemudi. Di setiap checkpoint akan disiagakan petugas medis untuk melakukan pemeriksaan fisik dasar dan tes urine yang dirancang mendeteksi penggunaan narkotika atau zat berbahaya yang dapat mengganggu kemampuan berkendara.
Penempatan checkpoint dan mekanisme operasional
Setiap Polda diminta menyiapkan minimal satu checkpoint di rest area strategis. Lokasi dipilih dengan memperhatikan titik kepadatan dan aksesibilitas sehingga pemeriksaan dapat berjalan efektif tanpa menyebabkan antrean panjang. Menurut Agus, mekanisme pemeriksaan akan dibuat fleksibel dan terkoordinasi untuk menyesuaikan dinamika arus lalu lintas: apabila arus padat, prosedur akan diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu kelancaran pergerakan pemudik.
Prosedur pemeriksaan kesehatan pengemudi
Alasan kebijakan dan data pendukung
Keputusan menambah pemeriksaan kesehatan diambil sebagai respons terhadap berbagai insiden lalu lintas yang kerap dihubungkan dengan faktor manusia, seperti kelelahan, konsumsi alkohol, atau penggunaan obat terlarang. Korlantas menginginkan pengawasan yang lebih preventif: menangkap potensi risiko sedini mungkin sebelum kendaraan memasuki jalur padat pemudik. Langkah ini juga sejalan dengan upaya menurunkan angka kecelakaan dan meningkatkan rasa aman bagi jutaan pemudik yang akan bepergian.
Dampak pada operator dan penumpang
Bagi operator bus dan travel, aturan ini berarti tambahan lapisan inspeksi yang harus mereka siapkan secara administratif dan operasional. Namun, pendekatan yang diusung adalah kolaboratif: pemeriksaan bertujuan membantu memastikan armada yang beroperasi dalam kondisi terbaik. Untuk penumpang, tes urine pada sopir seharusnya meningkatkan keyakinan terhadap keselamatan perjalanan, meskipun ada potensi kekhawatiran terkait waktu tunggu di titik pemeriksaan jika pelaksanaan tidak terkoordinasi dengan baik.
Upaya menghindari antrean dan hambatan lalu lintas
Korlantas menegaskan bahwa pengaturan teknis di lapangan akan menyesuaikan kondisi arus lalu lintas. Petugas akan menerapkan prosedur yang efisien agar pemeriksaan cepat dan tidak menciptakan bottleneck. Selain itu, pemanfaatan rest area sebagai lokasi checkpoint dianggap strategis karena area ini memiliki fasilitas pendukung—parkir, fasilitas medis dasar, dan ruang menunggu—yang memudahkan proses pemeriksaan tanpa mengganggu ruas utama.
Kolaborasi lintas instansi
Poin penting yang perlu diperhatikan pemudik dan operator
Penerapan tes urine wajib untuk sopir bus dan travel menunjukkan perubahan paradigma: tidak hanya kendaraan yang harus laik jalan, tetapi juga manusia sebagai pengemudi harus dipastikan dalam kondisi prima. Langkah ini menempatkan keselamatan publik sebagai titik fokus utama menjelang salah satu momen mobilitas terbesar di Indonesia. Warta Express akan terus mengikuti perkembangan implementasi kebijakan ini dan efeknya terhadap kelancaran arus mudik 2026.
