Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumumkan bahwa Muktamar NU 2026 akan diselenggarakan pada 1–5 Agustus 2026. Pengumuman ini disampaikan menyusul rangkaian Munas dan Konferensi Besar (Konbes) NU yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Falah, Kediri. Meski tanggal sudah ditetapkan, lokasi final Muktamar masih dibahas dan akan diputuskan melalui rapat khusus setelah evaluasi beberapa opsi yang diajukan.
Rangkaian acara dan kaitannya dengan Munas-Konbes
PBNU menegaskan bahwa Munas, Konbes, dan Muktamar merupakan rangkaian kegiatan yang saling terhubung. Munas dan Konbes yang digelar pada 20–22 Juni 2026 di Pesantren Al Falah menjadi forum pembahasan utama untuk menentukan kesiapan organisasi menghadapi Muktamar. Penutupan Munas-Konbes dijadwalkan di Bangkalan pada 23 Juni dan diperkirakan akan dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia, Pak Prabowo Subianto, yang dijadwalkan hadir pada pukul 14.00 WIB.
Opsi lokasi yang diajukan dan kriteria penilaian
Sekretaris Steering Committee Munas dan Konbes NU 2026, Prof. M. Nuh, menyebut beberapa provinsi yang diusulkan sebagai lokasi penyelenggaraan Muktamar, yakni Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sumatera Barat. Namun keputusan akhir mengenai tempat akan melalui proses kajian mendalam yang meliputi beberapa aspek:
Tema Muktamar: menjaga marwah NU dan pengabdian pada bangsa
Prof. M. Nuh menegaskan bahwa tema utama Muktamar NU tetap berfokus pada menjaga marwah (kehormatan) NU serta memperkaya khidmat organisasi dalam pengabdian kepada masyarakat dan bangsa. Tema ini diharapkan menjadi pedoman arah kebijakan organisasi dan rekomendasi yang akan dihasilkan selama musyawarah besar.
Persiapan panitia dan mekanisme penentuan lokasi
Panitia steering committee akan menggelar rapat khusus untuk menilai setiap usulan lokasi. Metode penilaian melibatkan kunjungan lapangan ke beberapa tempat yang diusulkan untuk melihat kelayakan fisik sekaligus aspek spiritual. Keputusan lokasi nantinya diumumkan setelah seluruh kajian teknis dan nonteknis selesai. Panitia juga memastikan proses ini berlangsung transparan dan mempertimbangkan aspirasi PWNU dari berbagai daerah.
Signifikansi Muktamar bagi NU dan bangsa
Muktamar merupakan forum tertinggi NU yang memiliki peran strategis dalam menentukan arah organisasi, memilih kepemimpinan, serta merumuskan kebijakan yang berdampak pada basis santri dan masyarakat luas. Seiring usia organisasi yang panjang, Muktamar juga menjadi momen untuk merefleksikan kontribusi NU terhadap kehidupan keagamaan, sosial, dan kebangsaan—termasuk warisan tokoh‑tokoh pendiri seperti KH Hasyim Asy’ari hingga tokoh‑tokoh pesantren setempat.
Partisipasi dan pengaruh daerah
Pelaksanaan Muktamar di satu daerah juga membawa dampak ekonomi, sosial, dan kultural setempat. Kabupaten/Provinsi yang terpilih akan menerima kunjungan ribuan peserta, ulama, dan tamu negara, yang dapat meningkatkan aktivitas ekonomi lokal, infrastruktur, serta citra daerah. Karena itu, pertimbangan kelayakan menjadi sangat krusial agar penyelenggaraan dapat berlangsung lancar dan memberi manfaat maksimal bagi tuan rumah.
Langkah berikutnya dan agenda publik
Dengan ditetapkannya tanggal Muktamar NU 2026, seluruh elemen NU dan masyarakat luas kini menantikan keputusan lokasi final serta hasil‑hasil pembahasan yang diharapkan dapat memperkuat kontribusi NU terhadap dinamika keagamaan dan kemasyarakatan di Indonesia.
