Jakarta — Pemanfaatan smart data, kecerdasan buatan (AI) dan teknologi pabrik cerdas (smart factory) kini menjadi sorotan utama untuk mendorong transformasi Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia. Seminar bertajuk “Korea-Indonesia Smart Factory Seminar: Smart Data, AI, Smart Factory — Transformation Indonesian Cooperatives and SMEs” yang digelar di BINUS Bekasi pada 18 September 2026 menunjukkan bahwa langkah konkret sudah diambil lewat program pelatihan dan pendampingan teknis.
Forum kolaborasi: dari teori ke praktik
Acara yang dihadiri lebih dari 100 pelaku UKM, akademisi, serta perwakilan pemerintah dan industri teknologi ini merupakan puncak rangkaian Program Official Development Assistance (ODA) Smart Factory. Sebelumnya, pihak penyelenggara telah melaksanakan pelatihan intensif selama empat hari (14–17 September 2026) yang melibatkan 30 peserta dari 14 koperasi dan perusahaan. Pelatihan tersebut dirancang untuk membekali peserta dengan pemahaman teknis dan praktik digitalisasi proses produksi.
Apa yang diajarkan: fokus pada alat dan keterampilan
Sesi workshop menghadirkan materi “AI untuk Pengolahan Data: Smart Factory menggunakan Orange 3” yang dipandu narasumber dari BINUS University. Peserta dilatih mengolah dan memvisualisasikan data menggunakan perangkat lunak open-source, serta memahami bagaimana insight data dapat mendorong efisiensi produksi, prediksi permintaan, dan pengurangan limbah. Perwakilan dari Indonesian Cloud dan PT Internex Indonesia memaparkan arsitektur cloud dan solusi integrasi sistem yang relevan bagi skala UKM.
Pendekatan ODA: bukan sekadar pelatihan, tapi dukungan alat
Menurut keterangan Pengawas Ahli Utama Kementerian Koperasi RI, Daniel Asnur, program ODA Smart Factory tidak berhenti pada peningkatan kapasitas SDM saja. Peserta yang terlibat juga menerima dukungan berupa peralatan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan usaha masing-masing. Hal ini penting karena adopsi teknologi pada level UKM sering terhambat oleh ketersediaan modal dan akses ke infrastruktur digital yang memadai.
Manfaat strategis bagi koperasi dan UKM
Tantangan implementasi di lapangan
Walaupun potensi besar, ada beberapa kendala yang harus diatasi:
Replikasi sebagai best practice nasional
Tahun 2026 menjadi penutup program ODA Smart Factory sekaligus momen evaluasi. Kementerian Koperasi berharap pengalaman pilot ini dapat direplikasi di skala lebih luas sebagai praktik terbaik bagi koperasi dan UKM lain di seluruh Indonesia. Untuk itu diperlukan sinergi lanjutan antara pemerintah, penyedia teknologi, lembaga pendidikan, dan pihak donor guna membangun ekosistem adopsi teknologi yang berkelanjutan.
Rekomendasi langkah ke depan
Transformasi digital koperasi dan UKM lewat smart data, AI dan smart factory bukan sekadar tren. Dengan pendekatan yang terstruktur — kombinasi pelatihan, dukungan alat, pendampingan teknis dan pembiayaan — Indonesia memiliki peluang nyata untuk meningkatkan produktivitas sektor usaha kecil dan koperasi. Kuncinya terletak pada replikasi praktik yang berhasil, ketersediaan sumber daya untuk pemeliharaan jangka panjang, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan agar manfaat teknologi dirasakan merata ke seluruh penjuru negeri.
