Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan signifikan dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Per 28 September 2026, luas lahan yang masih terbakar di enam provinsi prioritas tersisa 96,07 hektare setelah operasi gabungan darat dan udara berhasil memadamkan 431,53 hektare dari total 527,6 hektare yang tercatat sebelumnya. Angka ini menunjukkan penurunan luas api sebesar 62,29 hektare dibanding data satu hari sebelumnya.
Distribusi dan dinamika penurunan titik api
Penurunan luas lahan yang berhasil dipadamkan paling signifikan terjadi di Kalimantan Tengah dengan pengurangan 46,70 hektare. Disusul Kalimantan Selatan yang turun 17,74 hektare, sedangkan Jambi dan Kalimantan Barat mencatat penurunan masing‑masing 1,50 hektare dan 1 hektare. Namun ada juga daerah yang melaporkan kenaikan luas yang belum padam: Sumatera Selatan meningkat 4,15 hektare dan Riau 0,5 hektare—indikator bahwa situasi masih dinamis dan memerlukan perhatian terus‑menerus.
Sumber daya dan taktik pemadaman
Pemadaman kali ini memadukan upaya darat dan udara. Untuk operasi darat, BNPB melibatkan 59.035 personel satgas yang tersebar di enam provinsi prioritas, yaitu Riau (14.837 personel), Kalimantan Barat (14.575), Sumatera Selatan (11.026), Kalimantan Selatan (7.927), Jambi (5.984), dan Kalimantan Tengah (4.686). Peralatan yang dikerahkan meliputi pompa pemadam, tangki portabel, serta metode injeksi air ke lapisan gambut—teknik penting untuk memadamkan api yang menyala di kedalaman gambut.
Di udara, BNPB mengerahkan 56 unit pesawat yang terdiri dari 43 unit water bombing dan 13 unit patroli serta pesawat dukungan untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Penggunaan kombinasi operasi darat‑udara ini terbukti mampu meningkatkan jangkauan pemadaman, terutama di area sulit dijangkau kendaraan darat.
Tantangan operasional: kabut asap, arah angin, dan ketersediaan air
Tim pemadam menghadapi sejumlah kendala teknis yang mempengaruhi efektivitas operasi. Tebalnya kabut asap mengurangi visibilitas sehingga menyulitkan operasi udara; perubahan arah angin yang mendadak dapat membuat titik api bergeser; dan keterbatasan sumber air di beberapa area gambut menghambat upaya pembasahan efektif. Oleh karena itu BNPB bersama TNI, Polri, BMKG, dan pemerintah daerah melakukan kolaborasi intensif untuk memaksimalkan pembasahan darat serta melaksanakan penyemaian awan guna mengurangi dampak asap terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat.
Peran regeneratif dan hukum: penegakan kasus karhutla
Sampai 28 September 2026 tercatat 341 laporan polisi terkait dugaan tindak pidana karhutla yang sedang ditangani, dengan total area terdampak mencapai 30.566,55 hektare. Dari proses hukum ini, 196 orang telah ditetapkan sebagai tersangka dan penyidikan terhadap korporasi mulai dijalankan. Penegakan hukum menjadi salah satu upaya pencegahan agar pelaku—baik individu maupun badan usaha—bertanggung jawab atas tindakan yang menyebabkan kebakaran dan kerusakan lingkungan luas.
Strategi taktis dan teknis yang menunjukkan efektivitas
Kombinasi taktik ini, yang didukung jumlah personel dan alutsista yang besar, menjadi faktor kunci penurunan luas lahan yang terbakar. Namun efektivitas jangka panjang bergantung pada koordinasi logistik, kecukupan sumber daya air, dan kestabilan cuaca—yang tetap berada di luar kendali manusia sepenuhnya.
Dampak kesehatan dan mitigasi terhadap masyarakat
Kabut asap dari karhutla berdampak luas pada kesehatan masyarakat, terutama untuk kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan. Pemerintah daerah bersama BNPB telah mengimbau warga untuk membatasi aktivitas luar ruangan, menggunakan masker ketika berkegiatan di luar, dan menyiapkan layanan kesehatan darurat bagi yang terdampak. Selain itu, upaya penyemaian awan juga diselaraskan untuk mengurangi paparan asap di wilayah terdampak.
Pencapaian dan langkah selanjutnya
Angka pengurangan luas yang belum padam menjadi indikator bahwa koordinasi dan taktik pemadaman menunjukkan hasil. Namun sisa 96,07 hektare tetap memerlukan perhatian intensif hingga betul‑betul padam. Ke depan prioritas BNPB dan para pihak terkait meliputi:
Siklus penanggulangan karhutla masih akan terus berlangsung seiring perubahan cuaca dan kondisi lapangan. Data harian dan pemutakhiran titik api tetap menjadi indikator utama yang akan dipantau otoritas untuk memastikan pengendalian dan pemulihan lingkungan berjalan efektif.
