Universitas Indonesia (UI) baru‑baru ini menjalankan program Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) di Dukuh Bener, Desa Tepisari, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Kegiatan yang berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 ini dirancang untuk mendorong petani muda dan kelompok Karang Taruna Karya Muda agar mampu mengembangkan potensi pertanian lokal menjadi usaha bernilai tambah melalui integrasi pengetahuan lokal dan teknologi digital.
Tujuan program dan tema
Program Pengmas yang dipimpin oleh Dr. Atin Fitriana bersama tim—termasuk Novika Stri Wrihatni, Dwi Rahmawanto, Herenda Dwipan Putra, Azzizah Nurul Arifin, dan Putri Adillia Galuh Prasetya—mengusung tema “Transformasi Agrikultur Tradisional: Integrasi Pengetahuan Lokal dan Teknologi dalam Rencana Bisnis Petani Muda di Dukuh Bener”. Tujuan utama adalah membantu petani muda menyusun rencana bisnis yang konkret, meningkatkan keterampilan manajemen usaha pertanian, serta memanfaatkan teknologi digital untuk pemasaran produk.
Pelatihan dan pendampingan: dari produksi ke pengemasan dan pemasaran
Sekitar 60 peserta dari komunitas petani muda dan Karang Taruna setempat mengikuti rangkaian pelatihan. Materi yang disampaikan mencakup penyusunan model bisnis sederhana, teknik pengemasan yang menarik secara komersial, serta strategi pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Pendampingan juga mencakup identifikasi potensi lokal—misalnya komoditas unggulan, kearifan pangan tradisional, dan nilai budaya—sebagai daya tarik produk di pasar yang lebih luas.
Nilai kearifan lokal dipadukan teknologi
Salah satu titik kuat program ini adalah penekanan pada integrasi pengetahuan lokal dengan teknologi. Pendekatan tersebut mendorong petani untuk mempertahankan praktik agrikultur tradisional yang ramah lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas dan akses pasar melalui pemanfaatan teknologi sederhana: dokumentasi produk, pembuatan konten promosi, serta pemanfaatan marketplace dan media sosial untuk menjangkau konsumen urban.
Manfaat bagi masyarakat Dukuh Bener
Dukuh Bener dikenal sebagai wilayah dengan basis pertanian kuat, namun masih banyak potensi yang belum dimaksimalkan, terutama pada aspek pengolahan dan pemasaran. Melalui Pengmas ini, warga mendapatkan kemampuan untuk mengemas pengetahuan pertanian mereka menjadi produk yang mudah dikenali oleh konsumen. Ketua RW 04, Teguh Wiyana, berharap inisiatif ini menjadi langkah awal yang nyata untuk meningkatkan kesejahteraan warga: “Harapannya semoga dapat menindaklanjuti apa yang menjadi contoh dari Mbak‑mbak dan Mas‑mas dari Universitas Indonesia dan dapat dikembangkan, serta dapat menjadikan Dusun Bener, khususnya warga Desa Tepisari, menjadi makmur.”
Peran perangkat desa dan keberlanjutan program
Pelaksanaan program melibatkan perangkat Desa Tepisari sebagai mitra lokal, sehingga kegiatan tidak sekadar berakhir pada sesi pelatihan saja tetapi punya peluang untuk berlanjut lewat dukungan pemerintahan desa. Keterlibatan aparat desa mempermudah integrasi program ke dalam rencana pembangunan lokal dan membuka akses ke fasilitas pendukung seperti ruang produksi bersama, fasilitas promosi, atau fasilitasi permodalan berbasis koperasi lokal.
Langkah praktis yang dilatihkan
Harapan dan tantangan ke depan
Program ini membuka jalan bagi transformasi pertanian berbasis komunitas, namun beberapa tantangan nyata perlu diantisipasi: akses pembiayaan untuk skala usaha yang lebih besar, pengelolaan rantai pasokan yang efisien, serta penguatan kapasitas pemasaran berkelanjutan. Keterlibatan lembaga pendanaan mikro, koperasi, dan sinergi dengan pelaku usaha di kota dapat menjadi solusi untuk mengatasi hambatan modal dan akses pasar.
Rekomendasi untuk langkah berikutnya
Inisiatif Pengmas UI di Dukuh Bener merupakan contoh nyata bagaimana perguruan tinggi dapat menjadi katalisator pemberdayaan lokal: bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan pembentukan kapasitas yang memungkinkan petani muda memandang pertanian sebagai usaha bernilai ekonomi tinggi dan berkelanjutan. Keberlanjutan program akan sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor dan komitmen seluruh pemangku kepentingan lokal.
