Hampir 7 dari 10 Anak SD di Jakarta Kesulitan Belajar: Temuan Mengejutkan IHDC yang Wajib Orang Tua Tahu

Penelitian yang dilakukan oleh Indonesia Health Development Center (IHDC) baru‑baru ini memantik alarm serius terkait kondisi kognitif anak sekolah dasar di wilayah perkotaan Jakarta. Dari sampel 1.007 siswa yang tersebar di empat SD negeri, penelitian menemukan bahwa 68,5 persen siswa menunjukkan fungsi kognitif harian yang kurang memadai. Angka ini bukan sekadar statistik — ia merefleksikan masalah multifaktorial yang berpotensi mengganggu proses belajar, pengembangan potensi, dan kesejahteraan jangka panjang generasi kita.

Apa yang dimaksud fungsi kognitif harian?

Dalam studi IHDC, fungsi kognitif harian merujuk pada kemampuan yang diperlukan anak untuk berfungsi dengan baik di lingkungan sekolah setiap hari: memusatkan perhatian, mengingat informasi, memproses pelajaran dan instruksi, serta mengaplikasikan apa yang dipelajari. Ketika kemampuan‑kemampuan ini terganggu, anak tidak hanya tampil buruk pada ulangan; ia juga kehilangan kesempatan untuk berkembang secara sosial dan emosional.

Temuan utama: penglihatan, kecemasan, dan nutrisi

Penelitian menggunakan desain potong lintang dan melibatkan skrining kesehatan yang mencakup pemeriksaan refraksi (penglihatan), penilaian asupan gizi, serta skrining kesehatan jiwa dan perilaku. Beberapa temuan penting:

  • Sekitar 30 persen siswa (303 anak) memiliki gangguan refraksi yang membutuhkan tindak lanjut korektif.
  • Kelompok dengan risiko gangguan penglihatan sedang hingga tinggi memiliki kemungkinan (odds) mengalami fungsi kognitif harian kurang baik sekitar 3,1 kali lipat dibandingkan kelompok berisiko rendah.
  • Risiko ansietas tinggi berkaitan dengan odds fungsi kognitif yang kurang baik sekitar 3,3 kali, sementara risiko depresi tinggi berkaitan dengan odds sekitar 2,5 kali.
  • Angka‑angka ini menunjukkan korelasi kuat antara masalah kesehatan (fisik maupun mental) dan kemampuan anak untuk berfungsi kognitif di sekolah.

    Mengapa penglihatan begitu penting?

    Siapa pun yang pernah mengajar tahu bahwa anak yang tidak melihat papan atau buku dengan jelas akan cepat tertinggal. Pemeriksaan refraksi yang menemukan 30 persen siswa memerlukan koreksi adalah alarm: banyak anak mungkin belum mendapat pemeriksaan mata rutin atau akses kacamata yang terjangkau. Di sinilah intervensi sederhana — skrining mata berkala di sekolah dan penyediaan kacamata subsidi — dapat memberi dampak langsung terhadap performa belajar.

    Peran kesehatan mental dalam pembelajaran

    IHDC juga menyoroti bahwa kecemasan dan gejala depresi pada anak berkaitan erat dengan penurunan fungsi kognitif. Anak yang cemas cenderung sulit berkonsentrasi, mengalami gangguan tidur, dan menjadi mudah lelah — kondisi yang jelas menghambat proses belajar. Skrining kesehatan jiwa di sekolah, pelatihan bagi guru untuk mengenali tanda‑tanda awal, serta akses ke layanan konseling adalah langkah yang harus diprioritaskan.

    Intervensi yang disarankan oleh peneliti

    Para peneliti menekankan pendekatan intersektoral: masalah kesehatan anak tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu instansi. Beberapa rekomendasi praktis:

  • Kolaborasi sektor kesehatan dan pendidikan untuk program skrining rutin (mata, nutrisi, kesehatan mental) di sekolah dasar.
  • Penyuluhan dan pelibatan orang tua agar tidak cepat memberi label “malas” pada anak yang kesulitan fokus — banyak kasus merupakan masalah medis atau psikologis yang bisa ditangani.
  • Penyediaan akses rujukan cepat ke layanan kesehatan, termasuk optik murah dan tenaga psikologis di tingkat kecamatan atau puskesmas.
  • Peningkatan literasi gizi dan program pemberian makanan seimbang di sekolah untuk mendukung fungsi otak optimal.
  • Implikasi bagi kebijakan dan pembangunan SDM

    Prof. Nila F. Moeloek, pendiri dan ketua dewan pembina IHDC, menekankan bahwa pembangunan sumber daya manusia harus dimulai dari kesehatan anak. Jika Indonesia ingin mewujudkan visi jangka panjang seperti Indonesia Emas 2045, maka intervensi di level anak sekolah harus menjadi prioritas. Ini berarti memasukkan kesehatan anak ke dalam agenda pendidikan nasional, mengalokasikan anggaran untuk skrining dan intervensi, serta memastikan program ini dapat diakses di seluruh lapisan masyarakat, termasuk daerah kurang mampu.

    Tindakan konkret bagi sekolah dan guru

  • Melakukan skrining sederhana di awal tahun ajaran (cek penglihatan, pertanyaan singkat tentang mood dan tidur) dan mencatat temuan untuk tindak lanjut.
  • Melibatkan kader kesehatan sekolah atau bekerja sama dengan puskesmas setempat untuk pelaksanaan program pengukuran dan rujukan.
  • Menerapkan praktik kelas yang mendukung anak dengan kesulitan konsentrasi: pengaturan tempat duduk, materi visual yang lebih besar, serta segmentasi tugas menjadi bagian‑bagian kecil.
  • Peringatan penting soal interpretasi data

    IHDC menegaskan bahwa angka‑angka dalam penelitian menunjukkan hubungan statistik (korelasi), bukan bukti sebab‑akibat langsung. Artinya, meskipun gangguan penglihatan dan risiko kecemasan terkait dengan penurunan fungsi kognitif, diagnosis klinis lebih lanjut tetap diperlukan. Skrining yang dilakukan oleh studi ini adalah langkah awal — kebutuhan akan evaluasi medis dan psikologis profesional tidak boleh diabaikan.

    Kesimpulan sementara untuk publik

    Temuan IHDC adalah panggilan bangun: hampir 7 dari 10 anak di empat SD negeri Jakarta mengalami hambatan kognitif harian yang nyata. Penyebabnya berlapis — kesehatan mata, kondisi mental, serta faktor nutrisi — dan menuntut respons terpadu antara guru, orang tua, fasilitas kesehatan, dan pembuat kebijakan. Investasi pada program skrining dan intervensi dini di sekolah bukanlah biaya semata, tetapi modal strategis untuk memastikan anak‑anak Indonesia dapat berkembang maksimal dan menjadi sumber daya masa depan bangsa.