WartaExpress

Anindya Bakrie Bongkar Strategi Rahasia: Bagaimana Indonesia Bisa Kuasai Pasar Global dan Perkokoh Perdagangan Antarprovinsi

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, menekankan tiga pilar utama yang harus menjadi fokus pelaku usaha nasional dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Perdagangan: stabilitas perdagangan antarprovinsi, ekspansi pasar global, dan penguatan investasi. Pernyataan itu ia sampaikan pada sesi pembukaan Rakornas bertema “Optimasi Perdagangan Domestik dan Internasional serta Akselerasi Investasi Strategis Menuju Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen” di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Stabilitas perdagangan antarprovinsi: kunci ketahanan ekonomi

Anindya menyoroti pentingnya memastikan alur perdagangan antarprovinsi berjalan lancar karena setiap daerah memiliki keunggulan komparatif yang berbeda. “38 provinsi bisa berdagang satu sama lain karena tidak semuanya menghasilkan hal yang sama. Jadi ini bisa menjadi ketahanan ekonomi sendiri,” ujar Anindya. Menurutnya, peningkatan konektivitas dan sinkronisasi kebijakan antar daerah akan menurunkan biaya logistik, meminimalkan pemborosan stok, serta memperkuat ketahanan pangan dan pasokan strategis di tingkat nasional.

Manfaat membuka akses pasar global

Soal perdagangan luar negeri, Anindya mengapresiasi upaya pemerintah membuka akses ke pasar baru di tengah tekanan global. Ia menyebutkan bahwa pemanfaatan pasar tradisional seperti Amerika Serikat tetap penting, namun penetrasi ke Uni Eropa, Kanada, Eurasia, dan pasar lainnya harus terus digenjot untuk meningkatkan devisa. “Pemerintah berjuang keras membuka pasar dari yang sudah ada Amerika, tapi juga Uni Eropa, Kanada, Eurasia, dan lain-lain. Kita mesti manfaatkan apalagi bisa menghasilkan devisa saat rupiah berada di bawah tekanan,” ungkapnya.

Ekspansi ini menurut Anindya tak hanya soal volume ekspor, tetapi juga tentang peningkatan nilai tambah produk dalam negeri—mendorong produk hilirisasi dan branding agar mampu bersaing di pasar internasional.

Investasi sebagai motor penggerak perdagangan

Anindya menyoroti capaian investasi kuartal I-2026 yang mencapai sekitar Rp 500 triliun sebagai tanda positif. Ia menyatakan investasi strategis berskala besar dan kecil menjadi penopang utama kelancaran perdagangan dan penciptaan lapangan kerja. “Investasi ini pada akhirnya akan mendorong produksi dan perdagangan, yang kemudian memacu konsumsi domestik,” katanya.

Ia juga menekankan perlunya mendorong investasi di daerah agar terjadi pemerataan ekonomi. Oleh karena itu Kadin, lanjut Anindya, harus menjadi katalisator yang menginspirasi pengusaha lokal untuk berani berinvestasi, termasuk dalam skema‑skema yang sesuai kapasitas daerah.

Kolaborasi pemerintah‑swasta: modal untuk akselerasi

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan Budi Santoso menekankan perlunya kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah dan pelaku usaha. Menurut Budi, sinergi antara Kadin, asosiasi industri, dan pemerintah daerah penting untuk memastikan program peningkatan ekspor dan perluasan pasar domestik berjalan efektif.

“Kita banyak program yang nanti bisa disinergikan baik dengan Kadin pusat maupun Kadin provinsi dan kabupaten/kota. Jadi bareng‑bareng kita tingkatkan ekspor, daya saing, dan pertumbuhan pasar dalam negeri,” ujar Menteri Perdagangan.

Strategi implementasi di tingkat daerah

  • Penguatan jejaring Kadin hingga ke tingkat provinsi dan kabupaten untuk memastikan program turun ke lapangan.
  • Fasilitasi akses pembiayaan bagi UMKM agar mampu masuk rantai pasok ekspor dan meningkatkan kapasitas produksi.
  • Peningkatan infrastruktur logistik antarwilayah untuk menekan biaya distribusi dan mempercepat arus barang.
  • Program pendampingan hilirisasi produk unggulan daerah agar menambah nilai dan memudahkan akses ke pasar internasional.
  • Fokus pada penciptaan nilai tambah

    Anindya menegaskan bahwa skema peningkatan ekspor tidak boleh hanya bersifat kuantitatif. Kadin mendorong percepatan hilirisasi dan pengembangan produk bernilai tambah—misalnya pengolahan komoditas primer menjadi produk jadi yang lebih bernilai di pasar global. Dengan demikian, ekspor tidak hanya menghasilkan devisa, tetapi juga membuka lapangan kerja lebih banyak dan memperkuat struktur industri dalam negeri.

    Tantangan dan prioritas ke depan

  • Menjaga stabilitas makro dan nilai tukar untuk menjaga daya saing ekspor.
  • Menurunkan biaya logistik dan hambatan birokrasi antarwilayah yang masih menahan distribusi barang.
  • Meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas standar ekspor untuk menembus pasar yang lebih menantang secara teknis seperti Uni Eropa dan AS.
  • Memastikan investasi yang masuk berdampak pada pembangunan daerah dan tidak hanya terkonsentrasi di wilayah pusat.
  • Peran Kadin sebagai penggerak perubahan

    Sebagai organisasi pengusaha, Kadin memiliki peran strategis: menjadi penghubung antara dunia usaha dan kebijakan pemerintah, sekaligus fasilitator transformasi sektor riil agar lebih kompetitif. Rakornas ini diharapkan menghasilkan langkah konkret dan rencana aksi yang bisa diimplementasikan bersama pemerintah serta asosiasi industri di daerah.

    Dengan sinergi yang tepat—antara stabilitas perdagangan domestik, ekspansi pasar global, dan investasi strategis—Anindya optimis target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dapat dikejar. Namun realisasinya memerlukan kerja terukur, alokasi sumber daya yang cermat, serta koordinasi intensif di semua tingkatan pemerintahan dan dunia usaha.

    Exit mobile version