Badan Geologi: Relokasi Total Warga Arjasari Mendesak — Risiko Longsor Susulan Bisa Seret Lebih Banyak Korban

Badan Geologi Minta Relokasi Total Warga Terdampak Longsor di Arjasari, Bandung

Badan Geologi Kementerian ESDM mengeluarkan rekomendasi tegas: relokasi total bagi semua bangunan warga yang terdampak peristiwa gerakan tanah di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Rekomendasi itu disampaikan menyusul analisis yang menunjukkan bahwa gerakan tanah yang terjadi Jumat lalu di Desa Wargaluyu merupakan tipe rotasional — sebuah tipe longsor yang berpotensi menimbulkan longsor susulan apabila kondisi lingkungan dan cuaca tetap mendukung.

Pemicu dan karakteristik longsor

Berdasarkan hasil identifikasi geologi, lokasi longsor berada pada koordinat sekitar 7.037935 LS dan tersusun dari batuan jenis Andesit Waringin‑Bedil dan Malabar Tua, yang secara litologi merupakan perselingan lava dan breksi. Materi pelapukan yang relatif gembur serta struktur tanah yang rentan membuat lereng mudah kehilangan kestabilan ketika menerima input air berlebih. Kondisi drainase permukaan yang buruk pada lokasi memperparah akumulasi air, sehingga peluang terjadinya pergeseran massa tanah meningkat signifikan saat hujan lebat dan berkepanjangan.

Dampak awal dan kondisi korban

Peristiwa longsor di Desa Wargaluyu menimbulkan dampak langsung: tiga warga sempat tertimbun, satu dilaporkan luka‑luka, dan sekitar 400 orang mengungsi. Upaya pencarian korban dilakukan oleh tim SAR gabungan, namun Badan Geologi memberi peringatan keras agar evakuasi dan operasi pencarian dilakukan dengan memperhatikan kondisi cuaca — pekerjaan penyelamatan di lereng yang masih labil sangat berisiko jika dilaksanakan saat atau segera setelah hujan deras.

Anjuran teknis mitigasi jangka pendek dan jangka panjang

  • Relokasi total bangunan yang terdampak dan yang berlokasi di zona berisiko menengah hingga tinggi menurut peta prakiraan gerakan tanah.
  • Penghentian sementara aktivitas yang dapat merusak kestabilan lereng, termasuk pengerukan tebing, penambangan lokal, atau pembangunan yang mengganggu drainase.
  • Perbaikan sistem drainase permukaan untuk mengalirkan air hujan menjauhi titik kritis lereng.
  • Pemberian tanda zona berbahaya dan sosialisasi intensif kepada masyarakat mengenai potensi longsor susulan dan prosedur evakuasi.
  • Pengerjaan terasering dan penanaman vegetasi berakar kuat di bagian bawah hingga tengah lereng sebagai solusi jangka panjang untuk menahan erosi dan memantapkan struktur tanah.
  • Status kerentanan wilayah dan rekomendasi peta risiko

    Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Desember 2025, wilayah Arjasari masuk dalam Zona Kerentanan Menengah. Klasifikasi ini menunjukkan adanya potensi terjadinya pergerakan tanah bila curah hujan melebihi normal, terutama pada area yang berbatasan langsung dengan lembah sungai, gawir, atau tebing yang mengalami gangguan stabilitas.

    Peringatan bagi tim SAR dan relawan lapangan

    Badan Geologi menekankan kehati‑hatian bagi tim SAR yang melakukan operasi pencarian. Beberapa poin penting yang diingatkan adalah:

  • Jangan melakukan pencarian di lereng saat hujan atau segera setelah hujan deras;
  • Gunakan tim dan peralatan yang memadai serta terlatih untuk bekerja di lereng labil;
  • Koordinasikan evakuasi dan operasi lapangan dengan instansi terkait agar pengamanan area dan komunikasi berjalan efektif.
  • Peran pemerintah daerah dan dukungan bantuan

    Relokasi total membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, pusat, dan lembaga teknis. Pemerintah Kabupaten Bandung perlu segera menyiapkan lahan relokasi aman, skema bantuan sementara untuk pengungsi, serta program rehabilitasi lingkungan pasca‑relokasi. Selain itu, penguatan kapasitas peringatan dini dan peningkatan infrastruktur drainase di kawasan rawan menjadi prioritas untuk mengurangi risiko berulang.

    Mitigasi ekologis pascarelokasi

    Untuk mengurangi kemungkinan longsor susulan setelah relokasi, Badan Geologi merekomendasikan intervensi rekayasa lingkungan yang bersifat konservatif, seperti pembuatan terasering bertingkat pada lereng, penanaman vegetasi dengan akar kuat (misalnya pandan, vetiver atau jenis lokal yang adaptif), dan revegetasi di area yang gundul. Langkah‑langkah ini dimaksudkan untuk memperkuat struktur tanah secara biologis dan mekanis.

    Pentingnya komunikasi risiko kepada masyarakat

    Sosialisasi yang jelas mengenai situasi bahaya, jalur evakuasi, titik kumpul, dan prosedur darurat harus disampaikan kepada warga yang terdampak. Pemerintah daerah bersama instansi teknis perlu menyusun paket informasi yang mudah dimengerti, termasuk pemetaan zona bahaya yang dapat diakses oleh masyarakat lokal. Partisipasi warga dalam mitigasi sederhana—seperti menjaga drainase rumah dan melaporkan retakan tanah—juga krusial.

    Langkah selanjutnya

    Dalam waktu dekat, pelaksanaan relokasi dan perbaikan struktur lereng harus diprioritaskan untuk menghindari korban jiwa lebih lanjut. Badan Geologi akan terus memantau situasi sambil memberikan rekomendasi teknis kepada Pemkab Bandung. Koordinasi lintas‑sektor—kesehatan, kebencanaan, tata ruang, dan pekerjaan umum—dibutuhkan agar proses relokasi dan mitigasi berjalan cepat, aman, dan terencana.