Penutupan Sekolah Massal di Korea Selatan: Dampak Krisis Kelahiran yang Mengkhawatirkan
Krisis demografis di Korea Selatan kini mulai berdampak nyata pada sistem pendidikan nasional. Berdasarkan data yang diperoleh anggota parlemen Jin Sun‑mee dari Kementerian Pendidikan, sebanyak 4.008 sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas telah ditutup akibat menyusutnya jumlah murid. Angka ini mencakup 3.674 sekolah dasar, 264 SMP, dan 70 SMA — gambaran yang sangat serius tentang perubahan demografis yang terjadi di negara tersebut.
Akar masalah: tingkat fertilitas yang sangat rendah
Salah satu indikator krisis ini adalah angka fertilitas total Korea Selatan pada 2024 yang tercatat hanya 0,748 — jauh di bawah ambang reproduksi sebesar 2,1 yang diperlukan untuk menjaga stabilitas populasi. Penurunan kelahiran yang berlangsung beberapa tahun telah mengakibatkan berkurangnya anak usia sekolah secara konsisten, yang pada akhirnya memaksa otoritas pendidikan menutup sekolah‑sekolah dengan jumlah pendaftar yang tidak mencukupi.
Wilayah terpukul paling parah
Dampak penutupan tidak merata secara geografis. Daerah non‑metropolitan dan pedesaan menjadi yang paling terpukul. Provinsi Jeolla Utara, Jeolla Selatan, Gyeonggi, dan Chungcheong Selatan masuk dalam daftar wilayah yang diproyeksikan mengalami penutupan sekolah terbanyak dalam beberapa tahun mendatang. Fenomena ini mencerminkan arus urbanisasi yang terus menguras populasi muda dari daerah desa ke pusat kota, sekaligus menegaskan perbedaan tekanan demografis antara wilayah metropolitan dan wilayah terpencil.
Ruang kelas kosong dan fasilitas terbengkalai
Selain penutupan 4.008 sekolah, laporan menunjukkan adanya ratusan fasilitas pendidikan yang kini terbengkalai: 376 lokasi belum dimanfaatkan kembali, 266 sekolah kosong lebih dari 10 tahun, dan 82 sekolah terbengkalai lebih dari 30 tahun. Kondisi ini menimbulkan persoalan baru — gedung‑gedung publik yang tidak produktif, berpotensi menjadi beban pemeliharaan dan sekaligus kehilangan fungsi sosial di komunitas setempat.
Pemutusan hubungan kerja bagi tenaga pendidik
Akibat penutupan sekolah, gelombang pengurangan tenaga pengajar pun tak terhindarkan. Kementerian Pendidikan melaporkan pemangkasan 1.289 guru SD dan 1.700 guru SMP. PHK ini tidak hanya berdampak ekonomi bagi para pekerja, tetapi juga menyebabkan keluarnya sumber daya manusia terlatih dari sektor pendidikan lokal, yang dapat memperburuk layanan pendidikan bagi anak‑anak yang masih ada di daerah tersebut.
Langkah darurat yang diambil pemerintah daerah
Sebagai respons sementara, kantor pendidikan provinsi dan metropolitan menerapkan sejumlah kebijakan darurat. Di antaranya adalah pengurangan jumlah siswa per kelas menjadi 10–15 orang serta penambahan kelas di sekolah yang masih memiliki kapasitas untuk menyerap siswa dari sekolah yang ditutup. Langkah‑langkah ini dirancang untuk menjaga kualitas pembelajaran dan menghindari penumpukan anak dalam jumlah besar pada sekolah yang tersisa.
Konsekuensi jangka menengah dan panjang
Opsi kebijakan yang perlu dipertimbangkan
Untuk merespons tantangan ini, pemerintah Korea Selatan perlu mengkombinasikan kebijakan jangka pendek dan jangka panjang:
Peran masyarakat dan lembaga lokal
Masyarakat lokal, organisasi nirlaba, dan sektor swasta dapat berperan aktif dalam memasok solusi kreatif: program pembelajaran berbasis komunitas, kolaborasi antara sekolah dan industri lokal untuk pelatihan vokasi, serta model co‑working yang menghidupkan kembali bangunan sekolah terpakai. Pendekatan bottom‑up semacam ini akan melengkapi kebijakan nasional dan membantu mempertahankan ekosistem sosial di daerah terpukul.
Apa yang harus diawasi ke depan
Krisis angka kelahiran di Korea Selatan bukan hanya masalah demografi semata, tetapi menyentuh aspek sosial, ekonomi, dan budaya yang luas. Penutupan ribuan sekolah adalah peringatan nyata bahwa tindakan terpadu dan cepat diperlukan untuk mengatasi penurunan populasi dan memastikan masa depan pendidikan yang inklusif bagi seluruh wilayah negara.
