Ketua Umum DPP PSI, Kaesang Pangarep, melanjutkan rangkaian Safari Ramadan dengan kunjungan ke Pondok Pesantren Nurul Qadim di Probolinggo, Jawa Timur, pada Sabtu sore. Momen kunjungan bertepatan dengan waktu berbuka, sehingga suasana hangat dan kekeluargaan langsung terasa sejak kedatangan rombongan yang turut didampingi pengurus DPP PSI dan pengurus PSI Jawa Timur.
Suasana sambutan: sederhana namun penuh makna
Setibanya di pesantren, Kaesang disambut langsung oleh pimpinan pondok, KH. Abdul Hadi Noer, beserta para kiai dan ulama setempat. Rangkaian acara bukan hanya formalitas politik; pertemuan berlangsung dalam nuansa kekeluargaan yang kental, dengan dialog santai antara tokoh politik muda dan pimpinan pesantren. Kehangatan itu juga terpancar dari hidangan sederhana yang disajikan sebagai menu berbuka.
Suguhan spesial: sate untuk berbuka
KH. Abdul Hadi Noer menyampaikan bahwa pihak pondok menyiapkan sajian buka puasa berupa sate hangat untuk tamu. “Alhamdulillah, beliau sudah berbuka di sini. Saya siapkan sate, biar beliau semangat, biar hangat,” ujar sang kyai sambil tersenyum. Sikap ramah dan simbolik itu langsung diapresiasi oleh Kaesang, yang dalam sambutannya mengekspresikan rasa terima kasih atas sambutan istimewa tersebut.
Pesan dan kesan Kaesang
Di hadapan pengurus pesantren dan tamu undangan, Kaesang menyampaikan rasa terima kasihnya dan menegaskan pentingnya hubungan antara partai politik dan elemen pesantren. “Terima kasih, Pak Kyai. Kami dari Partai Solidaritas Indonesia sangat berterima kasih atas sambutan yang luar biasa ini,” ujarnya. Kedatangan Kaesang tidak semata ritual politik; menurut pengamat lokal, ini bagian dari upaya konsolidasi komunikasi dan membangun jaringan sosial di wilayah-wilayah basis pesantren.
Rombongan dan skala acara
Skala acara relatif sederhana namun strategis: PSI menempatkan kunjungan sebagai bagian dari safari Ramadan yang digelar serentak di berbagai daerah, mulai dari tingkat DPW, DPD hingga DPP.
Strategi PSI: merangkul pesantren di bulan suci
Safari Ramadan ini menjadi salah satu alat komunikasi politik sekaligus sosial. Bagi PSI, langkah turun langsung ke pondok pesantren selama Ramadhan merupakan upaya mempererat hubungan dengan komunitas keagamaan—sebuah pendekatan yang memainkan dua fungsi sekaligus: merajut silaturahmi dan menguatkan daya tawar politik di level basis massa. Dalam konteks politik lokal, kunjungan semacam ini membantu partai memahami kebutuhan komunitas pesantren dan membangun citra keterbukaan terhadap tradisi keagamaan.
Dinamika lokal: mengapa pesantren penting bagi partai?
Dengan memahami dinamika ini, strategi PSI tampak diarahkan untuk membangun relasi jangka panjang—bukan sekadar pencitraan sesaat.
Respons kyai dan pengasuh pesantren
KH. Abdul Hadi Noer menyambut baik kedatangan Kaesang dan rombongan. Selain menyuguhkan makanan untuk berbuka, kyai juga menyampaikan pesan keagamaan singkat dan nasihat agar kegiatan politik dilakukan dengan etika dan kepedulian sosial. Sikap kyai yang hangat ini memberi nuansa legitimasi moral bagi interaksi antara tokoh politik muda dan institusi pesantren.
Catatan pelaksanaan dan pesan bagi kader PSI
Penerapan prinsip-prinsip ini akan memperkecil risiko persepsi negatif dan meningkatkan efektivitas silaturahmi politik berbasis komunal.
Makna lebih luas: politik dan sosial di bulan suci
Kunjungan politik saat Ramadhan memiliki resonansi budaya yang kuat di Indonesia. Di satu sisi, ia membuka ruang dialog antaraktor sosial; di sisi lain, ia menuntut kehati-hatian agar tindakan tersebut tidak dipandang instrumental semata. Dari Probolinggo, pesan sederhana berupa sate dan sambutan hangat mengilustrasikan bagaimana politik lokal dapat dijalankan dengan nuansa kemanusiaan, menghormati tradisi, dan membangun kepercayaan kolektif.
Safari Ramadan Kaesang ke pesantren Nurul Qadim menjadi contoh bagaimana tokoh muda dan partai politik mencoba menegaskan keberpihakan pada basis tradisional keagamaan melalui pendekatan yang sopan dan bersahaja. Agenda semacam ini, jika dilaksanakan dengan konsistensi dan kesungguhan, mampu memperkuat jaringan sosial-politik yang berdampak pada tingkat lokal maupun nasional.
