Gunung Semeru Meletus 30 Kali dalam 6 Jam: Warga Diminta Siaga, Ini Zona Bahaya yang Harus Dihindari

Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang intens. Dalam rentang pengamatan enam jam pada Minggu siang hingga sore (12.00–18.00 WIB), pos pengamatan mencatat 30 kali gempa letusan/erupsi serta beberapa kejadian gempa lainnya, termasuk satu kali getaran banjir. Data ini disampaikan oleh petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, yang melaporkan amplitudo dan durasi gempa yang terekam serta rekomendasi mitigasi bagi masyarakat di kawasan terdampak.

Rekaman aktivitas: frekuensi, amplitudo, dan durasi

Berdasarkan catatan pengamatan, selama periode enam jam dimaksud Gunung Semeru mengalami 30 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo berkisar antara 15–22 mm. Lama gempa tiap kejadian tercatat antara 76 hingga 136 detik. Selain itu, terdeteksi satu kali gempa embusan (amplitudo 8 mm, durasi 56 detik), satu kali gempa tektonik jauh (amplitudo 8 mm, S‑P 18 detik, durasi 38 detik), serta satu kali gempa getaran banjir yang menunjukkan amplitudo besar (35 mm) dan durasi sangat panjang — tercatat mencapai 6.120 detik.

Status dan rekomendasi PVMBG

PVMBG menetapkan status Gunung Semeru pada Level III (Siaga). Dalam kondisi ini, lembaga vulkanologi mengeluarkan sejumlah rekomendasi praktis untuk meminimalkan risiko terhadap warga sekitar:

  • Jangan melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara Gunung Semeru sepanjang alur Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).
  • Di luar jarak 13 km tersebut, masyarakat tetap diminta menjauhi sempadan sungai sejauh 500 meter di sepanjang Besuk Kobokan karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar dapat menjangkau hingga 17 km dari puncak.
  • Waspadai radius 5 km dari kawah/puncak karena rawan lontaran batu pijar; tidak melakukan aktivitas rekreasi atau bekerja dalam radius tersebut.
  • Hati‑hati terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru—khususnya Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat—serta anak-anak sungai yang menjadi cabang dari alur‑alur tersebut.
  • Kondisi visual dan cuaca saat pengamatan

    Pada saat pengamatan, kondisi visual gunung terekam tertutup kabut (tingkat kabut 0–II hingga 0–III), sementara asap kawah tidak tampak secara visual. Kondisi cuaca tercatat mendung hingga hujan dengan angin lemah berarah ke selatan. Kombinasi cuaca buruk dan kabut dapat menyulitkan pemantauan visual sehingga pengamatan instrumental (seismik, infrasound) menjadi sangat penting untuk membaca perkembangan aktivitas vulkanik.

    Ancaman dinamis: awan panas dan lahar sebagai risiko utama

    Meski sejumlah gempa letusan terekam, ancaman paling berbahaya bagi pemukiman adalah awan panas (pyroclastic flows) dan aliran lahar. Awan panas bergerak cepat dan mematikan, sedangkan lahar — terutama saat terjadi hujan atau ketika material longgar bercampur air — dapat menjalar jauh di lembah dan menimbulkan banjir lahar yang merusak infrastruktur dan permukiman.

    Imbauan bagi warga dan otoritas lokal

  • Warga di wilayah rawan diminta selalu siap siaga dan mengikuti arahan evakuasi dari BPBD, koramil, polsek, dan posko kebencanaan setempat.
  • Bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai hulu Semeru, disarankan menyiapkan jalur evakuasi vertikal (ke tempat lebih tinggi) dan menjaga barang penting pada lokasi yang mudah diakses saat harus bergerak cepat.
  • Pemerintah daerah dan BPBD diminta menjaga ketersediaan logistik, posko darurat, dan koordinasi untuk evakuasi jika terjadi peningkatan aktivitas secara cepat.
  • Catatan teknis: interpretasi gempa dan kegempaan getaran banjir

    Frekuensi tinggi gempa letusan (30 kali dalam enam jam) menandakan peningkatan aktivitas eruptif di dapur magma atau akumulasi tekanan gas yang periodik melepaskan energi. Sementara itu, gempa getaran banjir dengan durasi panjang (6.120 detik) kemungkinan berkaitan dengan pergerakan massa air bercampur material volkanik di aliran sungai—fenomena ini menandakan interaksi vulkanik‑hidrologi yang perlu diwaspadai karena berkaitan langsung dengan potensi lahar.

    Apa yang harus dipantau selanjutnya

  • Perubahan status dari PVMBG (naik turun level) yang akan menentukan kebijakan evakuasi atau pembatasan aktivitas.
  • Peningkatan frekuensi atau amplitudo gempa letusan yang bisa mengindikasikan eskalasi erupsi.
  • Perubahan kondisi meteorologis (hujan deras) yang dapat memicu aliran lahar dari material volkanik longgar.
  • Seiring data seismik dan pemantauan visual dimutakhirkan, otoritas kebencanaan akan terus mengkomunikasikan langkah mitigasi. Untuk warga di kawasan rawan, waspada dan kesiapsiagaan merupakan kunci utama—mengikuti arahan resmi lebih aman daripada mengambil risiko menilai situasi secara mandiri.