WartaExpress

Indonesia Jangan Jadi Penonton! Menteri Ekraf: Saatnya JadiContent Powerhouseyang Menguasai Dunia

Indonesia harus jadi “content powerhouse”: strategi naik kelas menurut Menekraf Teuku Riefky

Dalam sesi diskusi “Dari Budaya Jadi Daya” pada peluncuran Nusantara Rising di IdeaFest 2026, Menteri Ekonomi Kreatif/ Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Teuku Riefky Harsya menegaskan satu gagasan tegas: Indonesia tidak boleh sekadar jadi pasar bagi produk budaya global—kita harus menjadi produsen konten yang berpengaruh di level dunia. Pernyataan ini membuka kembali perdebatan strategis tentang bagaimana mengubah kekayaan budaya dan talenta lokal menjadi industri kreatif yang kompetitif secara internasional.

Apa maksud menjadi content powerhouse?

Menjadi content powerhouse berarti lebih dari sekadar memproduksi karya berkualitas. Itu juga soal kemampuan mengonversi karya budaya—musik, film, animasi, gim, literatur, hingga fashion—menjadi produk ekonomi yang berkelanjutan, mampu menarik pasar global, dan menciptakan nilai tambah yang nyata bagi pembuatnya. Menurut Riefky, faktor penentu bukan hanya kreativitas artistik, tetapi juga ekosistem yang mendukung: pembiayaan, teknologi, perlindungan kekayaan intelektual, dan akses pasar.

Tantangan utama yang dihadapi pelaku ekraf

Beberapa hambatan nyata yang disebutkan atau tersirat dalam pernyataan Menekraf antara lain:

  • Kesulitan akses pembiayaan bagi kreator skala kecil dan menengah sehingga potensi tidak optimal dikembangkan;
  • Keterbatasan adopsi teknologi produksi dan distribusi digital yang memerlukan peningkatan kapasitas;
  • Perlindungan hak kekayaan intelektual (IP) yang belum merata, membuat karya rentan ditiru atau dimonetisasi oleh pihak luar tanpa kompensasi yang adil;
  • Fragmentasi pasar dan rendahnya akses ekspor konten sehingga monetisasi pada skala global belum optimal.
  • Strategi Nusantara Rising: penguatan kolaborasi lintas sektor

    Nusantara Rising, gerakan kolektif soft power yang diluncurkan KADIN Indonesia dan didukung berbagai pihak termasuk pemerintah, dimaksudkan sebagai platform kolaborasi untuk menjembatani pelaku kreatif, investor, dan pemangku kepentingan. Riefky melihat inisiatif ini sebagai sarana memperkuat ekosistem melalui:

  • penghubungan kreator dengan investor dan pasar;
  • fasilitasi akses pembiayaan dan bantuan teknis untuk kesiapan ekspor;
  • pemberdayaan kapabilitas IP agar kreator bisa memonetisasi karyanya secara aman;
  • kolaborasi lintas kementerian/lembaga sesuai target Rindekraf 2026–2045 dan RPJMN 2025–2029.
  • Peran teknologi dan mitra korporasi

    Pada acara IdeaFest, Bekraf memperlihatkan kolaborasi nyata dengan perusahaan teknologi seperti Adobe dan operator telekomunikasi seperti Indosat. Kehadiran booth interaktif dan instalasi kreatif menunjukkan upaya menggabungkan kreativitas dengan teknologi: dari ilustrasi digital hingga platform produksi konten yang mempermudah distribusi. Riefky menekankan bahwa adopsi teknologi bukan sekadar tren—itu adalah kebutuhan untuk meningkatkan daya saing global.

    Dari budaya jadi produk bernilai ekonomi

    Mengubah budaya menjadi daya saing ekonomi memerlukan pendekatan berlapis. Berikut beberapa prioritas yang perlu dijalankan menurut arah kebijakan yang digarisbawahi oleh Riefky:

  • Memperkuat rantai nilai kreatif: mulai dari pembinaan talenta, produksi, distribusi hingga pemasaran internasional;
  • Meningkatkan kapasitas bisnis kreator: pelatihan manajemen, pemasaran digital, dan kewirausahaan;
  • Mendorong sinergi antara sektor publik dan swasta untuk modul pendanaan inovatif seperti venture capital kreatif dan insentif ekspor;
  • Melindungi IP dan mempermudah proses pendaftaran hak cipta agar kreator aman mengekspor karyanya.
  • Dampak yang diharapkan: lapangan kerja dan ekspor

    Riefky menegaskan bahwa eksposur internasional harus menghasilkan dampak ekonomi nyata: terciptanya lapangan kerja, peningkatan nilai ekspor jasa konten, dan masuknya investasi. Bila ekosistem berjalan, efek berganda akan merambat ke sektor pariwisata, merchandise, hingga pendidikan kreatif—menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang lebih luas dan berdaya tahan.

    Praktik terbaik yang bisa ditiru

    Beberapa langkah praktis yang dapat mempercepat transformasi pelaku lokal menjadi pemain global antara lain:

  • Membangun incubator dan akselerator khusus kreatif yang menghubungkan kreator dengan mentor bisnis dan pasar internasional;
  • Mengimplementasikan program scholarship dan pelatihan teknis untuk meningkatkan kapasitas produksi digital dan storytelling;
  • Memfasilitasi roadshow internasional dan partisipasi pameran serta festival internasional untuk membuka akses pasar;
  • Merancang kebijakan fiskal yang mendukung ekspor konten—misalnya insentif pajak untuk produksi yang menargetkan pasar luar negeri.
  • Kolaborasi multi-pihak sebagai kunci

    Gerakan Nusantara Rising dan keterlibatan KADIN, kementerian, serta mitra teknologi menunjukkan bahwa transformasi tidak dapat berjalan sendiri. Diperlukan sinergi antara regulator yang membuat kebijakan pro‑bisnis, investor yang bersedia membuka akses modal, platform teknologi yang menyediakan infrastruktur distribusi, dan tentu saja kreator yang menghasilkan konten autentik dan kompetitif.

    Imbas jangka panjang untuk budaya nasional

    Jika strategi ini berhasil, kita tidak hanya melihat peningkatan angka ekonomi kreatif, tetapi juga perluasan pengaruh budaya Indonesia ke panggung global. Lagu, film, gim, dan konten lain yang mengangkat cerita lokal dapat menjadi alat diplomasi budaya yang kuat—memperkenalkan kekayaan Nusantara sambil menghasilkan nilai ekonomi yang nyata bagi pembuatnya.

    Exit mobile version