WartaExpress

Kaesang Tegaskan: Inilah Rahasia Sukses Kader Muda PSI — Belajar dari Senior atau Gagal Besar?

Ketua Umum DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, kembali menegaskan pentingnya transfer ilmu antar generasi politik saat menghadiri Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) dan pelantikan pengurus DPW PSI di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Sabtu sore. Dalam pidatonya, Kaesang memotivasi kader muda untuk secara aktif belajar dari para senior partai yang telah berpengalaman bertugas di legislatif selama beberapa periode.

Pesan utama: belajar dari pengalaman

Kaesang menggarisbawahi bahwa keberadaan kader senior yang memiliki pengalaman panjang di DPRD (tiga sampai empat periode) adalah aset berharga bagi regenerasi partai. “Kita di sini sekarang banyak senior yang sudah bergabung dengan PSI, banyak senior yang sudah 3 atau 4 periode di DPRD. Teman‑teman harus bisa menyerap ilmu dari beliau‑beliau ini,” ujarnya di hadapan ratusan kader yang hadir.

Inti pesan Kaesang sederhana namun strategis: ambil ilmu praktik, bukan sekadar teori. Bagi kader muda yang bercita‑cita duduk di kursi legislatif, pengalaman langsung dari senior—mulai pengelolaan konstituen, teknik legislasi, hingga tata kelola organisasi daerah—dipandang sangat penting untuk mempercepat kesiapan politik praktis mereka.

Agenda Rakorwil: konsolidasi dan pembenahan struktur

Acara tersebut tidak hanya bersifat seremonial. Selain pelantikan pengurus DPW, kegiatan juga meliputi pelantikan serentak pengurus DPD PSI di seluruh kabupaten/kota di NTB. Menurut Ketua DPW PSI NTB, Lalu Budi Suryata, struktur kepengurusan di wilayahnya kini telah memenuhi persentase yang diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai—DPW, DPD, dan DPC diklaim sudah terbentuk 100%.

Rakorwil menjadi momen penting untuk menyusun arah kebijakan partai di level provinsi dan kabupaten/kota serta menyiapkan strategi pemenangan menjelang kontestasi legislatif mendatang. Konsolidasi ini diproyeksikan berlanjut ke Rapat Kerja Daerah (Rakerda) yang rencananya digelar di 10 kabupaten/kota se‑NTB.

Target politik dan penguatan kader

Dalam arahannya, Kaesang juga menyinggung target PSI untuk memperkuat keterwakilan di lembaga legislatif. Di NTB, target utama adalah memastikan PSI memiliki kursi yang signifikan di DPRD provinsi dan kabupaten/kota. Untuk mencapai itu, pembinaan kader dari tingkat akar rumput sampai elit daerah dianggap krusial.

Kaesang menekankan perlunya kombinasi antara semangat idealisme politik muda dan kearifan praktis para senior. Kolaborasi ini diharapkan menciptakan kader yang tidak hanya vokal di media sosial atau panggung, tetapi juga handal dalam tata laksana pemerintahan dan legislasi.

Strategi pembelajaran yang direkomendasikan

  • Magang legislatif: mengawal program magang di kantor DPRD untuk kader muda agar memahami mekanisme pembuatan kebijakan dan hubungan konstituen.
  • Mentoring terstruktur: memadukan kader senior dengan junior melalui program mentoring formal untuk transfer pengetahuan teknis dan jaringan.
  • Pelatihan praktis: workshop tentang tata kelola anggaran daerah, penyusunan RAPERDA, dan teknik advokasi publik.
  • Simulasi politik: latihan debat legislatif, penyusunan rancangan kebijakan, serta manajemen krisis politik untuk mempersiapkan kondisi riil lapangan.
  • Relevansi langkah ini bagi PSI

    Langkah mendorong kader muda belajar dari senior bukan sekadar retorika. PSI sebagai partai yang dibangun dengan citra progresif dan basis pemilih muda membutuhkan keseimbangan antara inovasi politik dan kemampuan administratif. Tanpa pemahaman prosedural, elektabilitas dan efektivitas kader di lembaga terpilih akan sulit terwujud.

    Di sisi lain, menerima bimbingan dari kader senior membantu mencegah kesalahan taktik yang umum terjadi pada partai baru yang cepat tumbuh: idealisme bagus, namun tanpa pengalaman praktis, implementasi kebijakan dan hubungan kelembagaan bisa goyah.

    Tantangan implementasi

  • Jarak generasi dan gaya komunikasi: perbedaan cara pandang dan gaya politik antara generasi senior dan muda harus dikelola agar pembelajaran efektif.
  • Keseimbangan antara pembudayaan nilai baru dan penghormatan terhadap pengalaman lama agar tidak terjadi konflik internal.
  • Konsistensi dalam menjalankan program mentoring dan pelatihan agar transfer pengetahuan bersifat berkelanjutan, bukan program sekali waktu.
  • Kesimpulan sementara bagi pengamat politik lokal

    Dari titik pandang praktik politik regional, dorongan Kaesang untuk mendekatkan kader muda dengan pengalaman senior adalah langkah taktis yang relevan. Konsolidasi struktural di NTB dan upaya pembinaan yang sistematis bisa menjadi model replikasi di provinsi lain, asalkan diimbangi mekanisme pengukuran hasil dan akuntabilitas internal. PSI tampak berupaya menyeimbangkan energi muda dan pengalaman lama untuk memperkokoh posisi politiknya—sebuah strategi yang menarik untuk diikuti di panggung politik Indonesia ke depan.

    Exit mobile version