WartaExpress

Karhutla Kembali Mengamuk: 13 Hektare Terbakar di Lumajang — Apakah Wilayah Anda Berikutnya?

BNPB: Karhutla Masih Mendominasi Bencana Harian — 13 Hektare Terbakar di Lumajang dan Titik Lain

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi jenis kejadian bencana yang terbanyak dilaporkan selama periode 28–29 Agustus 2026. Pemantauan operasional oleh Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat menunjukkan titik kejadian tersebar dari Sulawesi Selatan hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan lahan terenggut api mencapai puluhan hektare termasuk laporan 13 hektare di Lumajang.

Ringkasan kejadian per wilayah

  • Sulawesi Selatan — Kabupaten Pinrang, Kecamatan Watang Sawitto (Maccorawalie): karhutla melanda lahan seluas sekitar 2 hektare pada Jumat (28/8/2026). Tim BPBD setempat bersama satuan gabungan berhasil melakukan pemadaman pada hari yang sama sehingga kondisi berhasil dikendalikan.
  • Jawa Tengah — Desa Tipar, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas: kebakaran yang mulai terjadi sejak Kamis (27/8/2026) melalap sekitar 1,5 hektare lahan. Petugas gabungan mampu memadamkan api pada Jumat (28/8/2026).
  • Jawa Timur — Lumajang: dilaporkan ada kebakaran signifikan yang menghanguskan total sekitar 13 hektare lahan. Penanganan di lapangan masih dilakukan oleh aparat setempat dengan dukungan sumber daya yang dimobilisasi.
  • Pemantauan operasional BNPB dan respons cepat

    Menurut Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S.P. Panjaitan, pemantauan Dit. Koordalops BNPB berjalan secara kontinu sejak Jumat pukul 07.00 WIB hingga Sabtu pukul 07.00 WIB. Setiap laporan langsung direspons dengan koordinasi ke BPBD kabupaten/kota setempat, TNI/Polri, Manggala Agni, relawan, dan satuan fungsi lainnya untuk melakukan pemadaman dan mitigasi dampak.

    Di beberapa titik, seperti Pinrang dan Banyumas, upaya pemadaman berhasil dilakukan relatif cepat karena akses yang memadai dan dukungan armada lokal. Namun di wilayah yang lebih terpencil atau lahan gambut, proses pemadaman memerlukan waktu lebih lama dan seringkali membutuhkan dukungan water bombing atau alat berat untuk membuka akses.

    Penyebab dominasi karhutla dan faktor pemicunya

    BNPB mengingatkan bahwa periode ini menandai musim transisi dengan lahan yang mudah terbakar karena kondisi kering pada sebagian wilayah. Faktor yang sering memicu karhutla antara lain:

  • praktik pembukaan lahan dengan pembakaran;
  • kebakaran lahan pertanian atau lahan tidur yang meluas karena angin kencang;
  • perubahan cuaca lokal yang mengeringkan biomassa (ranting, semak, dan alang‑alang);
  • kurangnya pengawasan di lahan milik masyarakat atau lahan terabaikan.
  • Khusus di Lumajang, kombinasi musim kemarau lokal yang masih berlangsung dan kerapuhan lahan pasca panen memperbesar risiko penyebaran api.

    Dampak kesehatan dan lingkungan

    Selain kehilangan lahan produktif, karhutla menimbulkan dampak langsung pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) meningkat di beberapa kejadian karhutla sebelumnya, memaksa dinas kesehatan mengerahkan tenaga medis dan menyiapkan layanan darurat. Partikulat dan polutan dari asap karhutla juga berdampak pada visibility jalan dan potensi kecelakaan lalu lintas.

    Upaya mitigasi dan rekomendasi BNPB

  • Peningkatan patroli dan pengawasan di wilayah rawan terutama pada lahan kering dan semak yang mudah terbakar.
  • Koordinasi cepat antara BPBD, TNI/Polri, Manggala Agni, dinas lingkungan hidup, dan relawan untuk penanganan awal.
  • Mobilisasi sumber daya teknis seperti pompa, alat berat untuk membuat sekat api, dan dukungan water bombing apabila diperlukan.
  • Kampanye pencegahan ke masyarakat tentang bahaya membuka lahan dengan bakar dan pemberian alternatif pengelolaan lahan pasca panen.
  • Peningkatan kesiapsiagaan layanan kesehatan di wilayah terdampak untuk menangani meningkatnya kasus gangguan pernapasan.
  • Peran masyarakat dan pemerintah daerah

    BNPB menekankan perlunya peran aktif pemerintah daerah dan masyarakat setempat dalam pencegahan. Pemerintah daerah diminta meningkatkan patroli di titik rawan, memperketat pengawasan terhadap aktivitas pembakaran lahan, dan menyediakan jalur komunikasi darurat bagi warga. Masyarakat hendaknya menghindari pembakaran lahan, segera melaporkan titik api kecil sebelum membesar, dan membantu membuat sekat alami untuk menghambat penyebaran api.

    Kebutuhan dukungan lintas sektoral

    Pencegahan dan penanggulangan karhutla memerlukan dukungan lintas sektoral. Sektor kehutanan, pertanian, lingkungan hidup, serta penegakan hukum harus bersinergi dengan BNPB untuk menindak praktik pembakaran lahan yang melanggar. Selain itu, perencanaan jangka panjang––termasuk restorasi lahan kritis dan pengembangan alternatif pengelolaan residu pertanian––penting untuk mengurangi kerentanan terhadap kebakaran.

    Pemantauan ke depan

    BNPB akan terus memantau situasi secara real time dan meng-update kondisi lapangan seiring perkembangan penanganan di lokasi. Masyarakat di wilayah rawan diimbau meningkatkan kewaspadaan, mematuhi imbauan otoritas setempat, dan berperan aktif melaporkan jika menemukan titik asap atau api agar penanganan dapat segera dilakukan sebelum meluas.

    Exit mobile version