DPR Tegaskan Kebijakan Harus Memperhatikan Nasib Pekerja IHT
Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, mengingatkan bahwa setiap kebijakan yang menyentuh industri hasil tembakau (IHT) wajib dikaji secara menyeluruh dengan mempertimbangkan nasib tenaga kerja. Pernyataan ini muncul di tengah wacana regulasi baru yang berpotensi mengubah struktur industri dan berdampak langsung pada puluhan ribu pekerja yang bergantung pada sektor tersebut.
Kerentanan tenaga kerja IHT
Industri hasil tembakau di Indonesia menyerap banyak tenaga kerja, mulai dari petani, pekerja pabrik, hingga pekerja distribusi dan penjualan. Banyak dari mereka bergantung pada pendapatan harian atau upah rendah yang rentan terhadap perubahan regulasi. Nurhadi menekankan bahwa langkah kebijakan tanpa mitigasi sosial yang kuat bisa menimbulkan pengangguran massal atau penurunan kesejahteraan keluarga pekerja.
Poin‑poin yang harus dipertimbangkan pembuat kebijakan
Mengapa pendekatan holistik diperlukan
Nurhadi menggarisbawahi bahwa kebijakan yang hanya berfokus pada aspek kesehatan publik atau fiskal tanpa memperhitungkan dimensi sosial dan ekonomi akan menimbulkan masalah baru. Peralihan yang tidak direncanakan bisa memperburuk kemiskinan di daerah penghasil tembakau dan menimbulkan resistensi sosial. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang mengintegrasikan kesehatan masyarakat, keberlanjutan ekonomi, serta perlindungan sosial bagi tenaga kerja.
Model mitigasi yang bisa diterapkan
Peran regulasi yang adil dan bertahap
Menurut Nurhadi, jika regulasi diperlukan untuk alasan kesehatan atau kepatuhan internasional, penerapannya sebaiknya dilakukan secara bertahap. Skema bertahap memberi waktu bagi industri untuk menyesuaikan proses produksi, bagi pekerja untuk mempersiapkan keterampilan baru, dan bagi pemerintah untuk menyalurkan dukungan yang dibutuhkan tanpa mengagetkan pasar tenaga kerja.
Dialog antar lembaga sebagai kunci
Pentingnya koordinasi lintas kementerian dan lembaga juga ditegaskan. Kebijakan yang menyentuh aspek kesehatan, industri, ketenagakerjaan, serta pertanian harus dirumuskan melalui forum yang melibatkan semua pihak terkait. Nurhadi mendorong penyelenggaraan hearing publik dan konsultasi dengan perwakilan pekerja untuk memastikan kebijakan yang diambil realistis dan dapat diterapkan di lapangan.
Implikasi politik dan sosial
Selain dampak ekonomi, perubahan kebijakan IHT dapat menimbulkan implikasi politik lokal, terutama di daerah yang bergantung pada tembakau sebagai sumber penghidupan utama. DPR, lewat anggota seperti Nurhadi, berperan memastikan bahwa kepentingan konstituen — dalam hal ini tenaga kerja dan komunitas lokal — tidak terabaikan dalam proses legislasi.
Langkah selanjutnya yang diusulkan DPR
Pesan akhir untuk pembuat kebijakan
Nurhadi menekankan bahwa kebijakan publik yang berkelanjutan adalah kebijakan yang mempertimbangkan seluruh aspek — ekonomi, sosial, dan humanis. Perlindungan pekerja harus menjadi komponen utama dalam setiap rancangan yang menyentuh sektor industri besar seperti IHT. Tanpa keberpihakan yang jelas, perubahan regulasi berisiko menciptakan masalah sosial yang lebih besar daripada yang ingin diselesaikan.
