Industri kuliner Indonesia semakin menunjukkan taringnya di pasar global. Data ekspor makanan olahan Januari–Agustus 2026 yang mencapai US$4,49 miliar, naik 13,47% dibandingkan periode sama tahun lalu, menjadi sinyal jelas bahwa produk-produk nusantara mulai diterima di mancanegara. Namun peluang saja tak cukup — pelaku usaha dan pemangku kepentingan harus bekerja terukur pada kualitas, distribusi, dan akses pasar agar cita rasa Indonesia benar‑benar mendunia.
Kekuatan yang dimiliki kuliner Indonesia
Ada beberapa aset strategis yang membuat kuliner Indonesia berpotensi menembus pasar internasional:
Pendorong pertumbuhan ekspor: apa yang sudah berjalan
Faktor yang membantu peningkatan kinerja ekspor termasuk semakin terbukanya akses ke pameran dagang internasional dan peran lembaga seperti SIAL Network yang menjadi jembatan antara produsen dalam negeri dan pembeli global. Juga ada perbaikan dalam packaging dan sertifikasi mutu dari beberapa eksportir yang membuat produk lebih dapat diterima di pasar target.
Tantangan utama yang harus diatasi
Meski potensi besar, ada sejumlah hambatan nyata yang menghalangi penetrasi lebih luas:
Strategi untuk membawa kuliner Indonesia ke tingkat global
Ada beberapa pendekatan praktis yang perlu didorong bersama antara pemerintah, asosiasi industri, dan pelaku usaha:
Peran pemerintah dan ekosistem pendukung
Pemerintah memiliki peran strategis dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif:
Contoh peluang produk yang bisa menonjol
Beberapa kategori produk berpotensi lebih mudah menembus pasar internasional bila dikemas dan disertifikasi dengan benar:
Dampak ekonomi jika berhasil
Penetrasi pasar internasional yang sukses akan membawa manfaat ekonomi nyata: peningkatan devisa, penciptaan lapangan kerja di rantai nilai F&B, serta penguatan sektor pertanian sebagai pemasok bahan baku. Khususnya bagi UMKM, ekspor memberikan peluang skala usaha yang lebih luas dan mendorong modernisasi proses produksi.
Peran pelaku usaha: dari produksi ke pemasaran
Pelaku usaha harus bergerak dua arah: selain meningkatkan kualitas produk, mereka perlu membangun narasi merek yang kuat. Menyertakan label asal daerah, cerita tradisi, serta keunggulan bahan baku lokal bisa menjadi nilai jual emosional yang efektif di pasar global.
Momentum seperti SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 harus dimanfaatkan sebagai titik tolak — bukan sekadar pameran — untuk membangun hubungan dagang jangka panjang, transfer teknologi pengemasan, dan akses ke buyer internasional. Jika ekosistem ini disinergikan dengan kebijakan yang tepat, kuliner Indonesia bukan hanya punya peluang mendunia: ia akan menjadi salah satu kekuatan ekspor baru yang berkelanjutan.
