Longsor melanda tiga wilayah pada 2 Januari 2026: empat tewas di Jatinangor, kerusakan rumah di Bondowoso
Pada Jumat malam, 2 Januari 2026, bencana longsor terjadi di beberapa daerah di Indonesia: Kabupaten Sumedang (Jawa Barat), Kabupaten Bondowoso (Jawa Timur), dan Kabupaten Aceh Timur (Aceh). Peristiwa paling tragis tercatat di Desa Cisempur, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, di mana runtuhnya tembok penahan tebing (TPT) di lokasi pembangunan rumah menimbun pekerja sehingga menewaskan empat orang.
Detil kejadian di Jatinangor
Longsor TPT di Dusun Cintamanah, Desa Cisempur terjadi pada Jumat malam saat proses pembangunan berlangsung. Tim SAR gabungan melakukan evakuasi hingga malam hari dengan penerangan darurat karena kondisi gelap di lokasi. Evakuasi terakhir berhasil mengangkat jenazah korban terakhir pada pukul 19.09 WIB. Total empat korban meninggal telah dikonfirmasi usai operasi penyelamatan.
Kejadian lain: Bondowoso dan Aceh Timur
Selain Sumedang, Kabupaten Bondowoso juga dilaporkan mengalami longsor yang disertai pohon tumbang, yang menyebabkan kerusakan pada rumah‑rumah setempat. Di Aceh Timur, longsor turut tercatat sebagai salah satu peristiwa pada hari yang sama. Informasi detail terkait korban jiwa atau kerusakan di Bondowoso dan Aceh Timur masih terus diperbarui oleh otoritas setempat.
Data bencana nasional dan konteks 2025
Tahun 2025 sudah dipenuhi berbagai bencana alam di Indonesia. Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga 31 Desember 2025 tercatat 3.223 kejadian bencana di seluruh negeri. Dari jumlah tersebut, banjir mendominasi dengan 1.644 kejadian, sementara tanah longsor tercatat sebanyak 233 kejadian. BNPB melaporkan total korban jiwa akibat bencana sepanjang 2025 mencapai 1.587 orang, korban hilang 237 orang, dan 5.713 orang luka‑luka. Jumlah warga terdampak dan pengungsi diklaim mencapai lebih dari 10 juta orang (10.147.009).
Penyebab dan faktor pemicunya
Longsor TPT seperti yang terjadi di Jatinangor sering kali dipicu oleh kombinasi faktor: pekerjaan konstruksi yang mengubah kestabilan lereng, curah hujan tinggi, serta drainase yang tidak memadai. Pekerjaan gali‑urug tanpa penguatan yang sesuai pada dinding penahan bisa meningkatkan risiko amblesnya struktur saat hujan lebat atau saturasi tanah terjadi.
Tindakan tanggap darurat dan evakuasi
Penanganan di lokasi melibatkan Tim SAR gabungan yang melakukan pencarian dan evakuasi hingga malam dengan bantuan lampu darurat. Berikut langkah‑langkah operasional yang umum diterapkan dalam penanganan longsor semacam ini:
Imbauan keselamatan bagi warga dan pekerja konstruksi
Mengingat potensi longsor yang dipengaruhi aktivitas pembangunan dan kondisi cuaca, beberapa langkah pencegahan penting perlu diperhatikan:
Dukungan pemulihan dan kebutuhan ke depan
Pascabencana, kebutuhan mendesak meliputi penanganan korban, perbaikan rumah yang rusak, serta dukungan logistik bagi keluarga terdampak. Pemerintah daerah bersama BNPB dan instansi terkait perlu mengerahkan bantuan material, hunian sementara, layanan kesehatan, serta program rehabilitasi lahan tergerus. Selain itu, evaluasi teknis terhadap metode konstruksi di lokasi terdampak penting untuk mencegah kejadian serupa.
Apa yang harus dipantau selanjutnya
Perkembangan informasi mengenai jumlah korban, penyebab teknis runtuhnya TPT, hasil investigasi pihak berwenang, serta langkah mitigasi jangka panjang akan terus diikuti. Warga di daerah rawan juga diminta memantau peringatan dini cuaca dan instruksi evakuasi dari BPBD setempat. Insiden ini kembali menegaskan pentingnya perencanaan tata ruang yang memperhitungkan risiko bencana alam dalam setiap kegiatan pembangunan.
