Laga Persib Bandung kontra Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada Minggu, 11 Januari 2026, berakhir dramatis dengan skor 1-0 untuk tuan rumah. Namun, bukan hanya hasil yang jadi sorotan publik—ritme permainan yang terus terputus dan keputusan wasit soal durasi waktu tambahan juga menuai kritik tajam dari pelatih Persija, Mauricio Souza. Dalam konferensi pers pascalaga, Souza menyampaikan keprihatinan tentang banyaknya gangguan yang membuat pertandingan sulit berkembang menjadi duel berkualitas.
Ritme pertandingan: terlalu sering terhenti
Menurut Mauricio Souza, pertandingan tidak pernah mencapai alur pertandingan yang stabil. Intensitas fisik tinggi, pelanggaran berulang, dan benturan antarpemain memaksa wasit menghentikan permainan berkali-kali. Kondisi tersebut mengganggu rencana taktis kedua tim dan mengurangi kesempatan pemain untuk mengembangkan permainan yang rapi.
Souza menegaskan bahwa timnya datang dengan persiapan matang untuk mendapatkan hasil positif, namun gangguan berulang membuat para pemain sulit mengekspresikan kemampuan teknis mereka. “Pertandingan banyak berhenti dan kita tidak melihat tim dengan bola,” ujar Souza, menyoroti bahwa kualitas pertandingan menurun karena seringnya jeda.
Waktu tambahan: hanya 4 menit, kontroversial
Salah satu poin paling disorot Souza adalah waktu tambahan babak kedua yang menurutnya tidak mencerminkan lamanya waktu yang hilang akibat gangguan. Wasit memberikan empat menit tambahan, sementara sepanjang pertandingan terjadi banyak jeda yang menurut pelatih Persija layak diganti dengan waktu tambahan lebih panjang.
Dalam laga di mana pelanggaran dan gangguan sering terjadi—mulai dari perawatan pemain di lapangan hingga insiden fisik—penonton dan tim mengharapkan kompensasi waktu yang memadai. Souza menilai keputusan memberi hanya empat menit sebagai sesuatu yang merugikan, karena menghilangkan peluang tim untuk mengejar hasil atau melakukan tekanan akhir secara layak.
Analisis taktis singkat: apa yang kurang dari Persija?
Meski mengkritik faktor eksternal, Mauricio Souza juga mengakui kelemahan internal timnya. Menurutnya, Persija kecolongan pada momen awal yang kemudian dimanfaatkan Persib lewat serangan balik cepat. Setelah unggul, Persib tampil disiplin dan rapi dalam menjaga struktur pertahanan hingga akhir pertandingan.
Pengaruh gangguan pada performa pemain
Gangguan berulang tidak hanya mematahkan alur permainan, tetapi juga berdampak pada kondisi mental dan fisik pemain. Pemulihan antara intensitas tinggi dan jeda yang sering membuat denyut permainan tidak stabil—ini berpengaruh pada pengambilan keputusan, ketepatan operan, serta kemampuan mengeksekusi pressing atau build-up secara konsisten.
Souza menyoroti bahwa kondisi semacam ini mengurangi kesempatan pemain muda untuk menunjukkan perkembangan teknis di laga besar. Ketika ritme terganggu, pemain cenderung lebih berhati-hati dan kurang berani mengambil inisiatif yang diperlukan untuk membongkar pertahanan lawan.
Reaksi pengamat dan implikasi bagi kompetisi
Insiden seperti ini memicu perdebatan lebih luas mengenai kualitas pengelolaan pertandingan di tingkat liga, terutama untuk laga berprofil tinggi seperti derby. Pengamat taktik dan mantan pemain menunjukkan bahwa selain keputusan wasit, faktor intensitas liga, kalender padat, dan tekanan rivalitas dapat meningkatkan jumlah pelanggaran dan insiden fisik.
Catatan untuk tim dan pelatih
Dari perspektif pelatih, ini momen reflektif: selain menuntut perbaikan manajemen pertandingan dari otoritas, tim perlu mengadaptasi strategi untuk kondisi pertandingan yang sering terputus. Beberapa pendekatan yang bisa dipertimbangkan:
Pandangan Mauricio Souza: keinginan keadilan kompetitif
Intinya, kritik Mauricio Souza bukan semata soal hasil, tetapi tentang keinginan agar kompetisi berjalan adil dan berkualitas. Memberi waktu tambahan yang sesuai dan pengelolaan pertandingan yang konsisten akan membantu tim menampilkan sepakbola terbaik mereka dan meningkatkan kredibilitas liga di mata penonton.
Sementara itu, Persib berhasil memanfaatkan situasi dengan disiplin yang kuat—bahkan ketika pertandingan sering terhenti—menunjukkan kesiapan taktis dan mental untuk mengontrol tempo setelah unggul. Bagi Persija, evaluasi taktis dan adaptasi terhadap kondisi permainan yang tidak ideal menjadi pekerjaan rumah menjelang pertandingan selanjutnya.
