Di Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, sebuah inisiatif sederhana namun revolusioner mulai mengubah wajah sektor perikanan skala kecil: nelayan lokal mulai beralih dari mesin tempel berbahan bakar minyak ke perahu listrik. Program yang diperkenalkan oleh Azura Indonesia melalui Program Nelayan Lestari ini bukan hanya soal mengganti bahan bakar, melainkan soal memperkuat ketahanan ekonomi nelayan sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Efisiensi biaya yang dramatis
Salah satu klaim paling menarik dari penerapan mesin perahu listrik MantaOne adalah potensi pengurangan biaya operasional hingga 90 persen. Angka ini berasal dari perbandingan pengeluaran bahan bakar konvensional dengan biaya listrik untuk pengisian baterai. Bagi nelayan skala kecil, yang sangat rentan terhadap fluktuasi harga BBM dan jarak distribusi bahan bakar, pengurangan biaya operasional berarti margin usaha yang lebih stabil dan pendapatan yang lebih dapat diprediksi.
Penerapan teknis: bukan sekadar mengganti mesin
Pergantian mesin tidak berhenti pada pemasangan unit listrik. Program Nelayan Lestari juga membangun infrastruktur pengisian daya dan ekosistem pendukung. Di lapangan, itu berarti instalasi stasiun pengisian berbasis energi surya di dermaga atau pusat desa, pelatihan terhadap nelayan untuk pemeliharaan baterai, serta sistem monitoring untuk memastikan operasional yang aman dan efisien. Tanpa ekosistem ini, manfaat ekonomi dan lingkungan sulit untuk terwujud secara berkelanjutan.
Manfaat lingkungan yang jelas
Aspek sosial dan ekonomi lokal
Implementasi di Desa Kusamba menunjukkan efek berganda. Selain mengurangi biaya, teknologi ini membuka peluang baru: pelatihan teknis bagi tenaga lokal, penciptaan lapangan kerja baru untuk instalasi dan pemeliharaan, serta penguatan posisi tawar nelayan dalam rantai pasok. Nadea Nabila, Direktur dan Co‑founder Azura Indonesia, menekankan bahwa transisi ini harus memberi manfaat ekonomi nyata bagi komunitas pesisir, bukan sekadar menjadi proyek teknologi semata.
Tantangan yang harus diatasi
Pengalaman nelayan: studi kasus Desa Kusamba
Nengah Sudiarta (51), salah satu nelayan yang telah mengoperasikan MantaOne, melaporkan perubahan nyata dalam biaya operasional sehari‑hari. Selain hemat BBM, ia merasakan kemudahan perawatan mesin listrik yang tidak memerlukan penggantian oli rutin dan memiliki suara operasi yang jauh lebih tenang—mengurangi polusi suara yang juga mengganggu kehidupan laut. Namun ia juga menyoroti perlunya akses suku cadang dan dukungan teknis cepat ketika mengalami masalah di tengah laut.
Skalabilitas dan replikasi
Untuk menjadikan transisi ini lebih luas, beberapa hal perlu dirancang secara sistematis:
Konteks kebijakan dan masa depan
Inisiatif ini selaras dengan tujuan transisi energi yang lebih luas dan upaya penurunan emisi di sektor maritim. Dukungan kebijakan lokal dan nasional—misalnya insentif fiskal untuk teknologi bersih, investasi infrastruktur energi terbarukan di pesisir, atau program pelatihan berbasis desa—akan mempercepat adopsi. Selain itu, pendekatan kolaboratif antara pemerintah, organisasi non‑profit, perusahaan inovasi seperti Azura, dan komunitas nelayan merupakan formula yang menjanjikan.
Pesan bagi pemangku kepentingan
Transisi perahu listrik di Bali, dimulai dari Desa Kusamba, menunjukkan bahwa solusi hijau dapat selaras dengan kebutuhan ekonomi nelayan. Jika skala dan dukungan diterapkan dengan tepat, upaya ini bisa menjadi model bagi daerah pesisir lain di Indonesia untuk mengurangi ketergantungan BBM sambil meningkatkan kesejahteraan nelayan lokal.
