Penemuan Menggemparkan: Inti Bumi Tersimpan Hidrogen Setara Puluhan Lautan — Bisa Jadi Air di Bumi Berasal dari Dalam Planet

Studi Baru Ungkap: Inti Bumi Menyimpan Cadangan Hidrogen Besar, Benarkah Lautan Terbentuk dari Dalam Planet?

Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada 10 Februari di jurnal ilmiah internasional menghadirkan hipotesis mengejutkan: inti Bumi mungkin menyimpan hidrogen dalam jumlah sangat besar — setara dengan 9 hingga 45 kali volume air yang ada di seluruh lautan saat ini. Temuan ini menantang narasi lama bahwa sebagian besar air Bumi berasal dari komet yang menabrak planet di masa awal pembentukan. Jika benar, sumber air kita bisa jadi bersifat internal, terbentuk oleh proses geokimia yang berlangsung jauh di dalam perut planet.

Metode eksperimen: meniru kondisi inti di laboratorium

Karena kita tak bisa mengekstrak sampel langsung dari inti, tim peneliti melakukan simulasi ekstrem di laboratorium. Mereka menekan sampel logam besi dan material lainnya hingga mencapai tekanan 111 gigapascal dan memanaskannya sampai sekitar 4.800 derajat Celsius — kondisi yang mendekati lingkungan inti Bumi. Setelah proses pendinginan, para ilmuwan melacak posisi atom-atom untuk melihat bagaimana hidrogen berikatan dengan unsur lain seperti silikon dan oksigen.

Hasil utama: hidrogen terikat dengan silikon, potensi puluhan lautan

Hasil eksperimen menunjukkan bahwa hidrogen dan silikon dapat membentuk struktur stabil dalam kondisi inti, dengan rasio 1:1 pada beberapa pengaturan. Dengan mengacu pada kandungan silikon yang diperkirakan ada di inti, para peneliti memperkirakan hidrogen mungkin menyumbang sekitar 0,07 hingga 0,36 persen dari total massa inti. Meskipun persentasenya kecil, jika dihitung ke dalam volume air setara, jumlah hidrogen ini bisa setara puluhan kali lipat volume lautan saat ini.

Bagaimana hidrogen di inti bisa menghasilkan air?

Hipotesis intinya adalah: jika hidrogen yang tersembunyi dapat bocor atau bermigrasi dari inti ke mantel pada kondisi tertentu — misalnya saat tekanan lokal berubah — hidrogen akan bereaksi dengan oksigen yang melimpah di mantel untuk membentuk molekul air. Proses semacam ini tidak terjadi dengan cepat, melainkan berlangsung selama ratusan juta hingga miliaran tahun melalui mekanisme geokimia dan dinamika mantel yang kompleks.

Implikasi besar bagi teori asal-usul air Bumi

Temuan ini tidak serta-merta meniadakan peran komet dan asteroid dalam memasok air ke Bumi, tetapi menambah dimensi penting: adanya reservoir internal yang besar memungkinkan pembentukan air secara in-situ (dari dalam planet) sejak awal sejarah Bumi. Jika hipotesis ini divalidasi lebih lanjut, kita harus merevisi pandangan tentang evolusi hidrosfer Bumi dan menimbang kembali bagaimana planet berbatu lain di tata surya — atau exoplanet — bisa memiliki air jika mereka menyimpan hidrogen dalam inti atau mantel mereka.

Kekuatan dan keterbatasan studi

Eksperimen laboratorium semacam ini merupakan metode terbaik yang tersedia untuk merekonstruksi kondisi ekstrem inti. Namun, para ilmuwan mengakui keterbatasan: hasil laboratorium belum otomatis sama dengan kondisi lapangan di interior planet yang sebenarnya. Factor seperti hasil produksi (yield), stabilitas fase pada skala besar, serta dinamika panjang waktu geologis tetap perlu diteliti. Beberapa peneliti juga menyarankan bahwa jumlah hidrogen bisa lebih besar atau lebih kecil dari perkiraan awal, tergantung asumsi komposisi inti dan model mantel yang digunakan.

Dampak pada riset planet dan eksplorasi luar angkasa

Jika cadangan hidrogen internal memang lazim pada planet berbatu, implikasinya luas bagi ilmu planetologi dan pencarian kehidupan di luar Bumi. Planet yang tampak kering di permukaan bisa menyimpan potensi pembentukan air dari dalam, yang pada akhirnya membuka kemungkinan habitat yang lebih luas dari yang diperkirakan. Ini juga mengubah prioritas misi eksplorasi: selain mencari air permukaan, pemahaman struktur internal dan komposisi planet menjadi semakin penting.

Pertanyaan yang masih menganga

  • Berapa mekanisme dan laju migrasi hidrogen dari inti ke mantel dan akhirnya ke kerak?
  • Dalam kondisi apa kebocoran hidrogen dapat terjadi secara signifikan untuk menghasilkan air dalam jumlah besar?
  • Apakah model planet lain (mis. Mars, Venus, exoplanet) memiliki kondisi serupa yang memungkinkan pembentukan air internal?
  • Bagaimana data seismik dan studi geofisika lain dapat menguji keberadaan reservoir hidrogen yang diperkirakan?
  • Rekomendasi penelitian lanjutan

    Untuk menguatkan hipotesis ini, dibutuhkan kombinasi pendekatan: eksperimen laboratorium tambahan dengan parameter yang diperluas, pemodelan numerik dinamika mantel dan inti, serta analisis data geofisika untuk mencari tanda-tanda historis migrasi unsur ringan. Selain itu, studi komparatif terhadap sampel meteorit primitif dan simulasi kondisi awal tata surya dapat membantu menjernihkan proporsi kontribusi eksternal (komet) versus internal.

    Makna bagi publik dan pendidikan sains

    Penemuan ini menunjukkan betapa ilmu pengetahuan terus berkembang dan mampu mengguncang asumsi lama. Bagi masyarakat awam, hal ini bisa dimanfaatkan sebagai momen meningkatkan literasi sains: menjelaskan bagaimana eksperimen ekstrem dilakukan, apa arti hasil ilmiah, dan mengapa temuan semacam ini membutuhkan verifikasi lebih lanjut. Cerita tentang “air yang lahir dari dalam Bumi” juga bisa memperkaya narasi pendidikan geologi dan astronomi di sekolah dan universitas.

    Penelitian ini membuka jendela baru untuk memahami asal-usul air dan evolusi planet. Perkembangan berikutnya — baik dari laboratorium, observasi geofisika, maupun pemodelan — akan menentukan apakah hipotesis cadangan hidrogen raksasa di inti benar‑benar meredefinisi sejarah hidrosfer Bumi.