WartaExpress

Pertamina Klaim Stok BBM Aman di NTT Pasca Gempa — Kapal Feri Bawa 11 Truk Tangki Selamatkan Pasokan

Kunjungan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan ke Fuel Terminal (FT) Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Selasa malam menjadi sinyal penting: meski gempa besar M7,7 mengguncang wilayah Flores dan menimbulkan ribuan gempa susulan, pasokan bahan bakar minyak (BBM) di NTT dinyatakan aman. Kunjungan ini bukan sekadar seremonial—ia memperlihatkan langkah cepat dan koordinasi logistik yang dilakukan Pertamina untuk memastikan kebutuhan energi tetap terpenuhi di masa darurat.

Situasi lapangan: inspeksi sekaligus apresiasi

Iriawan datang untuk melihat kondisi Terminal BBM dan bertemu langsung dengan personel yang bertugas di lokasi. Dalam kunjungannya, ia menyebut para pekerja Pertamina sebagai “pahlawan” karena tetap bertugas di tengah situasi darurat, termasuk ketika akses jalur darat terputus akibat kerusakan infrastruktur. Kehadiran pimpinan di lapangan sekaligus berfungsi untuk memeriksa kesiapan operasional dan memberikan motivasi kepada tim yang bekerja siang-malam.

Langkah logistik alternatif: kapal feri mengatasi hambatan darat

Salah satu tantangan terbesar pasca-gempa adalah terputusnya akses darat di sejumlah jalur utama, sehingga distribusi menggunakan truk tangki menjadi terkendala. Untuk mengatasi ini, Pertamina mengambil langkah cepat: mengirim kapal feri yang membawa 11 truk tangki BBM menuju Labuan Bajo. Penggunaan jalur laut ini terbukti krusial—dalam waktu kurang dari dua hari setelah jalur darat putus, pasokan tetap mengalir dan kekhawatiran kelangkaan dapat diminimalkan.

Stok aman, namun permintaan minyak tanah meningkat

Meski Pertamina memastikan stok BBM aman secara umum, terdapat peningkatan permintaan khusus untuk minyak tanah di beberapa wilayah terdampak. Kondisi darurat sering mendorong kebutuhan bahan bakar untuk penerangan, pemanas sederhana, atau operasi dapur umum di posko pengungsian. Pertamina berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menilai kebutuhan tambahan dan menyiapkan penambahan kuota bila diperlukan.

Koordinasi antarlembaga dan peran pemerintah daerah

Kunjungan Iriawan juga melibatkan pejabat Pertamina lain: Corporate Secretary, Direktur Optimasi Hilir dan Distribusi PT Pertamina Patra Niaga, serta pejabat regional. Hal ini menunjukkan pola koordinasi terpadu antara pusat dan unit bisnis yang berada di lapangan. Gubernur NTT pun dilaporkan telah meminta penambahan pasokan minyak tanah, yang segera ditindaklanjuti dalam komunikasi dengan manajemen Pertamina untuk memastikan respons cepat.

Peran personel lapangan dan kesiapan sumber daya manusia

Iriawan menegaskan apresiasinya kepada pegawai yang tetap bertugas di daerah terdampak. Saat akses darat terputus, personel di lapangan menghadapi tantangan logistik, safety, dan kondisi kerja yang sulit. Keberanian mereka untuk tetap bekerja, mengoperasikan terminal, dan mengatur distribusi menjadi faktor penentu mengapa pasokan BBM bisa tetap aman di tengah krisis.

Langkah mitigasi dan rencana distribusi lanjut

Pertamina menerapkan beberapa langkah mitigasi operasional:

  • Penggunaan jalur laut sebagai alternatif distribusi BBM ke wilayah‑wilayah terisolasi;
  • Penyiapan tambahan armada dan koordinasi dengan pihak berwenang untuk membuka kembali jalur darat jika memungkinkan;
  • Monitor stok harian di fasilitas penyimpanan utama agar dapat merespons perubahan permintaan dengan cepat;
  • Penambahan kuota minyak tanah jika permintaan di lapangan terus meningkat.
  • Antisipasi kelangkaan dan komunikasi publik

    Pertamina aktif menginformasikan status pasokan kepada publik agar tidak terjadi panic buying. Keterangan resmi dari manajemen—diterjemahkan ke dalam pesan di media lokal—bertujuan membangun kepercayaan masyarakat bahwa kebutuhan BBM akan terpenuhi. Selain itu, sinergi dengan pemerintah daerah membantu mengidentifikasi area prioritas untuk distribusi dan pemantauan kebutuhan bahan bakar untuk posko pengungsian dan layanan darurat.

    Dukungan logistik lain yang terlibat

    Penanganan pasokan BBM pascagempa tidak berjalan sendiri: institusi negara, TNI/Polri, Basarnas, serta operator logistik regional juga dilibatkan. Kerja sama ini meliputi penyediaan transportasi alternatif, pengawalan konvoi truk tangki, serta pemantauan keamanan titik-titik distribusi untuk memastikan stok dapat sampai ke tujuan tanpa hambatan berarti.

    Tantangan ke depan

    Meskipun pasokan aman untuk saat ini, tantangan masih ada:

  • Kerusakan infrastruktur yang menghambat distribusi ke titik terdalam di pulau-pulau kecil;
  • Kenaikan permintaan minyak tanah yang memerlukan penyesuaian kuota cepat;
  • Kebutuhan menjaga keselamatan operasional pekerja di tengah potensi gempa susulan;
  • Koordinasi berkelanjutan antara Pertamina, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memprioritaskan wilayah paling membutuhkan.
  • Apa yang dibutuhkan masyarakat

    Pertamina mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tidak melakukan pembelian berlebihan, dan mengikuti arahan otoritas setempat untuk mendapatkan BBM. Untuk kebutuhan kritis, pemerintah daerah dan kantor kebencanaan menyediakan saluran distribusi prioritas bagi fasilitas kesehatan, dapur umum, dan layanan darurat lainnya.

    Respons cepat Pertamina—pengalihan distribusi via laut, pemantauan stok, dan koordinasi intensif dengan pemerintah—menjadi contoh bagaimana perusahaan energi nasional memainkan peran sentral dalam mitigasi krisis. Langkah‑langkah ini membantu mencegah kelangkaan dan menjaga layanan penting tetap berjalan di tengah kondisi darurat pascagempa NTT.

    Exit mobile version