Peta persaingan industri otomotif di Asia Tenggara mengalami perubahan signifikan. Setelah puluhan tahun didominasi oleh merek‑merek Jepang, gelombang produsen China — khususnya pemain EV — mulai menggerus pangsa pasar tradisional. Fenomena ini paling terasa di Thailand, tetapi dampaknya juga nyata di Indonesia dan negara‑negara lain di kawasan. Berikut analisis terperinci mengenai dinamika yang sedang berlangsung, penyebab utama, dampak pada rantai pasok dan industri komponen, serta implikasi bagi konsumen dan pembuat kebijakan di Indonesia.
Perkembangan terbaru: data dan tren
Berdasarkan data penjualan sampai 10 bulan pertama 2025, pangsa pasar sembilan merek Jepang di Thailand turun menjadi 69,8% — merosot 6,6 poin persentase dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Tren penurunan ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu: pada puncaknya di dekade 2010-an, pangsa pasar merek Jepang hampir menyentuh 90% di Thailand. Pada 2023 angka itu turun ke 77,8%, melanjutkan penurunan menuju level yang kita lihat sekarang.
Penyebab utama pergeseran pangsa pasar
Masuknya merek China secara agresif: perusahaan seperti BYD tidak hanya mengekspor produk jadi, tetapi juga membangun fasilitas produksi lokal sehingga menurunkan biaya dan mendekatkan produk ke konsumen.
Fokus pada EV dan harga kompetitif: produsen China menawarkan kendaraan listrik dengan harga yang menarik bagi segmen massal, sehingga mempercepat adopsi EV di negara‑negara dengan permintaan sensitif harga.
Strategi lokalisasi dan kemitraan: investasi pabrik, kerjasama dengan pemasok lokal, serta paket insentif membuat produk China lebih mudah diakses dan kompetitif secara biaya.
Dampak di Thailand: pusat gravitasi manufaktur regional
Thailand berperan sebagai hub manufaktur otomotif di ASEAN, sehingga pergeseran di negara ini berimplikasi luas. Kehadiran pabrikan China yang memproduksi lokal (CKD/IKD) menekan pangsa pasar pabrikan Jepang. Selain itu, beberapa pabrikan Jepang merespon dengan menambah varian elektrifikasi (mis. Toyota meluncurkan Hilux dengan opsi listrik) atau meninjau kembali strategi produksi mereka.
Situasi di Indonesia dan negara tetangga
Indonesia menyumbang sekitar 30% dari total pasar otomotif Asia Tenggara. Data menunjukkan pangsa pasar merek Jepang turun di bawah 90% pada 2024 dan mencapai 82,9% untuk 10 bulan pertama 2025. Di Vietnam dan wilayah lain, persaingan juga menguat. Merek China mulai membangun fasilitas produksi lokal di Indonesia, meningkatkan tekanan kompetitif.
Dampak pada industri komponen
Turunnya produksi kendaraan di pabrikan Jepang berimplikasi langsung pada pemasok komponen — khususnya yang terikat pada rantai pasok Jepang. Dari sekitar 2.792 pemasok suku cadang Jepang di kawasan, hampir separuh berlokasi di Thailand.
Pemasok yang tergantung pada volume produksi pabrikan Jepang menghadapi tekanan modal dan permintaan; beberapa harus melakukan diversifikasi pelanggan atau menurunkan kapasitas produksi.
Di sisi lain, hadirnya pabrikan China membuka peluang baru bagi pemasok lokal yang bisa menyesuaikan standar kualitas dan harga untuk memenuhi kebutuhan OEM baru.
Respons pabrikan Jepang
Beberapa langkah yang diambil pabrikan Jepang mencerminkan adaptasi terhadap realitas baru:
Restrukturisasi fasilitas produksi: contoh, Honda berencana mengkonsolidasikan dua pabrik di Thailand menjadi satu lokasi untuk efisiensi biaya, sementara Mitsubishi mengumumkan penghentian produksi di salah satu pabriknya pada 2027.
Peningkatan electrification roadmap: peluncuran varian hibrida dan listrik menjadi prioritas untuk mempertahankan relevansi produk.
Upaya lokalisasi tetap dijalankan, termasuk investasi pada produksi komponen kunci di negara tujuan.
Konsekuensi bagi konsumen
Lebih banyak pilihan: masuknya merek China memberi konsumen akses ke EV dengan harga lebih terjangkau dan fitur modern.
Tekanan harga: persaingan harga bisa menurunkan harga jual ritel, menguntungkan pembeli, tetapi juga menekan margin dealer dan pabrikan.
Perhatian pada aftersales dan jaringan servis: merek baru perlu membangun layanan purna jual yang andal agar konsumen percaya pada produk baru.
Implikasi kebijakan dan rekomendasi
Pemerintah dan pemangku kepentingan industri perlu merumuskan kebijakan yang mendukung transformasi industri namun juga melindungi ekosistem pemasok lokal:
Mendorong investasi lokal berkualitas: insentif yang memacu transfer teknologi dan pembangunan fasilitas manufaktur berstandar tinggi.
Fokus pada peningkatan kemampuan pemasok: program peningkatan kualitas, sertifikasi dan akses pendanaan agar pemasok lokal dapat bersaing untuk menjadi supplier bagi OEM baru.
Regulasi transisi energi: kebijakan yang menyeimbangkan adopsi EV dengan kesiapan infrastruktur (charging, grid) dan pelatihan tenaga kerja.
Hal yang perlu dipantau ke depan
Pergerakan pangsa pasar hingga akhir 2026 — apakah tren penurunan merek Jepang akan berlanjut atau stabil kembali?
Kecepatan pembangunan fasilitas produksi pabrikan China di negara‑negara ASEAN dan dampaknya pada neraca perdagangan otomotif.
Kesiapan ekosistem purna jual dan infrastruktur pengisian daya untuk menopang penetrasi EV massal.
Perubahan peta otomotif Asia Tenggara bukan sekadar soal merek yang beredar di jalanan; ini soal transformasi industri, rantai pasok, dan kebijakan yang menentukan masa depan mobilitas regional. Bagi Indonesia, ini peluang dan tantangan sekaligus—peluang untuk menarik investasi dan mereformasi industri lokal, serta tantangan untuk menjaga kelangsungan pemasok tradisional dan memastikan transisi yang adil bagi pekerja dan pelaku usaha.