Pluto Dihapus! Kenali 8 Planet Tata Surya Versi IAU yang Harus Kamu Tahu

Pada 24 Agustus 2006, pemungutan suara anggota International Astronomical Union (IAU) mengguncang komunitas astronomi dunia: Pluto, planet kesembilan yang ditemukan pada 1930, secara resmi dikeluarkan dari kategori planet dan diklasifikasikan sebagai Planet Katai (dwarf planet). Keputusan ini lahir setelah ditemukannya objek serupa di Sabuk Kuiper yang menantang status Pluto. Berikut penjelasan mendalam tentang alasan, definisi, dan implikasi perubahan nomenklatur tata surya ini.

Latar Belakang Penemuan dan Revisi Klasifikasi

Sejak penemuan Pluto oleh Clyde Tombaugh pada 1930, nama Pluto menjadi sinonim “planet terjauh” dalam tata surya. Namun awal abad ke-21, peningkatan jumlah deteksi objek di luar Neptunus—termasuk Eris yang massanya sedikit lebih besar—memicu perdebatan: apakah Pluto masih layak disebut planet?

IAU mengeluarkan Resolusi B5 pada sidang umum di Praha, Ceko, yang menetapkan tiga kriteria sebuah benda langit disebut planet:

  • Mengorbit Matahari secara langsung.
  • Memiliki massa yang cukup untuk mencapai bentuk hampir bulat (simbioidisasi oleh gravitasinya).
  • “Membersihkan” wilayah orbitnya dari benda lain seukuran sebanding (dominasi gravitasi).
  • Pluto hanya memenuhi dua kriteria pertama dan gagal pada poin ketiga: orbitnya yang tumpang tindih dengan banyak benda Sabuk Kuiper membuatnya tidak dominan secara gravitasi.

    Definisi Planet Katai oleh IAU

    Dalam resolusi yang sama, IAU memperkenalkan kategori baru, Planet Katai, dengan definisi sebagai berikut:

  • Mengorbit Matahari.
  • Memiliki massa yang membuatnya hampir bulat secara gravitasi.
  • Tidak mampu membersihkan orbitnya dari objek lain yang berukuran sepadan.
  • Pluto, bersama beberapa objek Sabuk Kuiper lain (misalnya Eris, Haumea, Makemake, dan Ceres di Sabuk Asteroid), masuk dalam kategori Planet Katai. Saat ini jumlah Planet Katai di tata surya terverifikasi mencapai lebih dari lima belas, dan masih akan bertambah seiring penelitian lanjutan.

    Karakteristik Fisik Pluto

    Pluto memiliki diameter sekitar 2.273 kilometer, setara setengah diameter Bumi bagian AS, dan terletak rata-rata 6,6 miliar kilometer dari Matahari. Atmosfer Pluto terdiri atas nitrogen, metana, dan karbon monoksida yang sangat tipis. Suhu permukaannya ekstrem rendah, mencapai –230°C.

    Sistem Pluto menampilkan lima satelit, dengan Charon sebagai yang terbesar—ukuran Charon hampir setengah diameter Pluto. Hubungan gravitasi yang kuat menyebabkan Pluto dan Charon sering disebut sebagai “planet ganda” atau double dwarf planet.

    Delapan Planet dan Sistem Tata Surya Kini

    Setelah reklasifikasi Pluto, tata surya resmi dihuni delapan planet besar menurut IAU:

  • Merkurius
  • Venus
  • Bumi
  • Mars
  • Jupiter
  • Saturnus
  • Uranus
  • Neptunus
  • Sisanya—Ceres, Pluto, Eris, Haumea, Makemake, dan objek lainnya di Sabuk Kuiper—digolongkan sebagai Planet Katai.

    Dampak Ilmiah dan Pendidikan

    Perubahan status Pluto memicu diskusi panjang dalam dunia pendidikan dan literatur sains. Buku teks, peta tata surya, serta materi planetarium harus diperbarui. Meski demikian, Pluto tetap menjadi objek studi penting untuk memahami evolusi Sabuk Kuiper, dinamika planet mini, dan asal-usul sistem Matahari bagian luar.

    Masa Depan Katalog Tata Surya

    Dengan dukungan teleskop dan misi ruang angkasa terbaru—termasuk pengamatan Teleskop Luar Angkasa James Webb—jumlah objek Sabuk Kuiper yang memenuhi kriteria Planet Katai diperkirakan akan bertambah. Komunitas astronomi terus menerus menyempurnakan definisi dan klasifikasi untuk menampung temuan-temuan baru.

    Proses seleksi resmi melalui IAU menjadi landasan tata nomenklatur global, menjaga konsistensi penamaan dan kriteria ilmiah. Ke depan, diskusi mungkin berkembang mencakup status satelit besar, exoplanet, dan objek trans-Neptunus berukuran mikro.

    Pesan Bagi Penggemar Astronomi

    Bagi pembaca Warta Express yang tertarik eksplorasi antariksa, perubahan status Pluto mengajarkan satu hal penting: ilmu pengetahuan bersifat dinamis. Data baru memicu revisi teori, hingga konsensus internasional terwujud lewat forum ilmiah. Teruslah mengikuti temuan astronomi terkini dan jangan ragu ikut serta dalam diskusi publik soal tata surya dan misteri luar angkasa.