Polda NTT Raih Dua Rekor MURI dengan Program Pendampingan Kesehatan Mental yang Libatkan 11.663 Peserta
Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat prestasi unik: dua Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) setelah menggelar program pendampingan kesehatan mental yang diikuti 11.663 peserta dari 22 satuan kerja. Program yang dimulai pada 12 Juni 2026 ini memperlihatkan bahwa isu kesehatan mental kini mendapatkan perhatian institusional bukan hanya di layanan kesehatan, tetapi juga di lingkungan dengan tingkat tekanan kerja tinggi seperti kepolisian.
Skala dan target program
Program pendampingan yang diselenggarakan Polda NTT melibatkan personel Polri dan masyarakat sipil. Dengan total peserta mencapai 11.663 orang, kegiatan ini berjalan dalam skala besar dan terdistribusi di 22 satuan kerja di wilayah hukum Polda NTT. Pencapaian angka partisipasi ini menjadi dasar penghargaan oleh MURI, yang menilai inisiatif sebagai pelopor program pendampingan kesehatan mental berskala besar bagi institusi kepolisian dan warga.
Metode yang digunakan: USEFT sebagai terapi komplementer
Dalam pelaksanaan, Polda NTT menerapkan metode Ultimate The Source Body, Mind & Soul Emotional Freedom Technique (USEFT) sebagai terapi komplementer. Metode ini difokuskan pada pengelolaan stres, emosi, dan keterampilan kesejahteraan psikologis yang dapat dipraktekkan dalam kehidupan kerja sehari-hari. Penting untuk dicatat bahwa USEFT diposisikan sebagai pendamping, bukan pengganti layanan psikologis atau medis profesional bagi mereka yang membutuhkan penanganan klinis.
Pernyataan pimpinan Polda NTT
Kepala Kepolisian Daerah NTT, Inspektur Jenderal Polisi Rudi Darmoko, menyampaikan bahwa program ini lahir dari keprihatinan terhadap tekanan psikologis tinggi yang dihadapi anggota Polri dalam tugasnya. Menurutnya, personel yang sehat secara mental akan mampu memberikan pelayanan yang lebih humanis, empatik, dan dapat dipercaya oleh masyarakat. Rudi juga menegaskan bahwa penghargaan MURI bukan tujuan akhir, melainkan apresiasi atas upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia di tubuh kepolisian.
Makna strategis bagi institusi
Penguatan kesehatan mental dalam institusi seperti Polri memiliki beberapa implikasi strategis:
Respons MURI dan pengakuan publik
Direktur Operasional MURI memberikan penghargaan tidak sekadar karena angka partisipan, melainkan juga karena nilai inovatif program: Polda NTT dianggap pelopor dalam penyelenggaraan pendampingan kesehatan mental institusional berskala besar yang melibatkan aparatur keamanan dan publik. Penghargaan diserahkan dalam rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di Mapolda NTT, yang dihadiri unsur pimpinan, terapis, dan tamu undangan lainnya.
Peran humas dan komunikasi internal
Kepala Bidang Humas Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra, menekankan bahwa program ini merupakan investasi jangka panjang bagi institusi. Komunikasi internal dan eksternal yang baik diperlukan agar manfaat program tersosialisasi, serta agar peserta yang membutuhkan layanan lebih lanjut dapat diarahkan ke fasilitas psikologis atau medis yang memadai.
Aspek operasional dan tindak lanjut
Manfaat bagi pelayanan publik
Kapolda NTT menyinggung bahwa personel yang sehat mentalnya akan memberikan pelayanan yang lebih humanis dan peningkatan kepercayaan publik. Dalam konteks tugas kepolisian yang sering berhadapan dengan situasi emosional, kemampuan mengelola stres, empati, dan komunikasi efektif menjadi kunci untuk meredam konflik dan meningkatkan kualitas penegakan hukum yang berorientasi pada perlindungan masyarakat.
Catatan penting dan rekomendasi
Keberhasilan Polda NTT dalam melaksanakan program pendampingan kesehatan mental skala besar membuka wacana baru tentang pentingnya perhatian institusional terhadap kesejahteraan psikologis. Bagi institusi yang menanggung beban tugas berat dan tekanan tinggi, langkah seperti ini bukan hanya relevan tetapi juga mendesak untuk menjaga kualitas pelayanan dan ketahanan organisasi.
