Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin mendapat sorotan bukan hanya sebagai intervensi gizi anak sekolah, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi lokal. Hasil pemantauan dan studi awal menunjukkan bahwa MBG memicu efek berantai pada sektor pertanian, pemberdayaan perempuan, dan efisiensi pengeluaran rumah tangga. Dari sudut pandang ekonomi mikro dan makro, inilah saatnya memetakan dampak nyata program ini di lapangan.
Dorongan nyata untuk sektor pertanian
Berdasarkan pernyataan ekonom dan data kuartal IV-2025, sektor pertanian mencatat pertumbuhan yang signifikan—sekitar 5,33% year on year—yang sebagian besar didorong oleh permintaan produk hulu untuk pasokan MBG. Ketika ribuan anak di sekolah mulai mendapat makanan bergizi terjadwal, kebutuhan akan beras, sayur, protein hewani, dan produk peternakan meningkat secara berkesinambungan. Hal ini mendorong petani dan pelaku usaha hulu untuk meningkatkan produksi, berinvestasi pada input pertanian, dan memperbaiki rantai pasok lokal.
Ekosistem ekonomi inklusif: dari ladang hingga kantin sekolah
MBG tidak hanya menyerap produk pertanian, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang lebih inklusif. Modal yang mengalir ke petani kecil, pembibitan, hingga penyedia logistik lokal membuka peluang bisnis baru dan menciptakan lapangan kerja. Mitra penyedia makanan—baik koperasi lokal maupun UMKM pengelola katering—mulai melakukan investasi untuk memenuhi standar mutu dan kapasitas produksi yang diperlukan. Dengan kata lain, program ini menstimulasi permintaan yang stabil sehingga pelaku hulu berani berinvestasi jangka menengah.
Manfaat sosial-ekonomi bagi keluarga rentan
Survei Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) terhadap 1.800 orang tua mengungkapkan dampak langsung program MBG terhadap pengeluaran rumah tangga. Sekitar 36% responden melaporkan penurunan pengeluaran harian, khususnya biaya bekal dan uang saku anak. Meskipun penghematan mayoritas masih relatif kecil (banyak yang melaporkan <10% pengurangan total belanja bulanan), pengaruhnya terasa signifikan pada manajemen keuangan keluarga miskin dan rentan. Selain aspek finansial, ada pula dimensi psikologis: orang tua merasa lebih tenang ketika anak pulang sekolah setelah makan.
Pemberdayaan perempuan sebagai efek samping penting
Distribusi tugas pengelolaan MBG di banyak daerah melibatkan peran aktif perempuan—dari pengolahan, distribusi, hingga manajemen keuangan di tingkat sekolah dan masyarakat. Keterlibatan ini membuka ruang pemberdayaan: perempuan yang sebelumnya hanya berperan domestik kini mendapat akses pelatihan, penghasilan tambahan, dan jaringan ekonomi lokal. Peran perempuan dalam rantai nilai MBG juga meningkatkan kapasitas organisasi komunitas lokal, misalnya pelibatan PKK, koperasi desa, dan kelompok usaha perempuan.
Aspek efisiensi dan kualitas makanan
Efisiensi program MBG bukan hanya soal penghematan biaya rumah tangga, tetapi juga optimalisasi logistik dan standar gizi. Dengan pengaturan menu terstandar dan pengadaan terpusat/skala ekonomi, harga bahan baku bisa ditekan dan mutu gizi lebih konsisten. Namun, tantangan tetap ada: konsistensi pasokan, kualitas bahan baku di musim panen rendah, dan kapasitas dapur sekolah untuk menjaga higienitas serta nilai nutrisi makanan.
Tantangan implementasi dan risiko yang perlu diatasi
Rekomendasi kebijakan untuk memperbesar dampak positif
Implikasi makro‑ekonomi
Dari perspektif makro, MBG berkontribusi pada Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) melalui investasi hulu yang meningkat—alat pengolah pangan, fasilitas penyimpanan, hingga kendaraan distribusi. Ketika PMTB naik, efek pengganda terhadap perekonomian lokal dan nasional ikut meningkat. Data kuartal IV‑2025 yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi 5,39% (yoy) mempertegas bahwa program sosial berorientasi permintaan seperti MBG dapat menjadi bagian dari strategi pemulihan dan penguatan ekonomi pasca‑pandemi.
Respons masyarakat dan keberlanjutan program
Hasil studi menunjukkan tingkat dukungan tinggi dari kelompok penerima manfaat: 81% orang tua rumah tangga rentan menyatakan mendukung kelangsungan MBG. Dukungan ini bukan hanya karena manfaat ekonomi, tetapi juga karena aspek keamanan dan kenyamanan anak yang diselesaikan oleh program ini. Untuk memastikan kelangsungan, diperlukan sinergi anggaran antara pemerintah pusat, daerah, dan kontribusi pihak ketiga (sektor swasta dan filantropi).
MBG hadir sebagai contoh intervensi publik yang multi‑dimensional: memperbaiki gizi anak, menggerakkan permintaan produk lokal, serta memberdayakan pelaku ekonomi di tingkat akar rumput—terutama perempuan. Dengan perbaikan sistemik pada rantai pasok, pengawasan gizi, dan dukungan kebijakan yang berkelanjutan, MBG memiliki potensi menjadi program transformasional bagi perekonomian dan kesejahteraan sosial di Indonesia.
