WartaExpress

Siaga Rob di NTB: Pasang Bisa Capai 2 Meter Mulai 24 Okt—Daerah Mana Saja yang Harus Segera Mengungsi?

BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi banjir pesisir (rob) di sebagian wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai 24 Oktober hingga 2 November 2026. Peringatan ini disampaikan menyusul prediksi pasang maksimum yang dipicu oleh gabungan fenomena astronomis—fase Bulan Purnama pada 26 Oktober dan perigee pada 29 Oktober—yang memperbesar amplitudo pasang surut air laut. Sebagai jurnalis Warta, saya merangkum data teknis, wilayah terdampak, jadwal pasang puncak, serta langkah antisipasi yang perlu dilakukan masyarakat dan otoritas setempat.

Wilayah pesisir NTB yang berisiko

BMKG menyebutkan daftar lokasi pesisir yang berpotensi terdampak banjir rob. Di Pulau Lombok, zona yang diwaspadai meliputi Ampenan, Sekarbela, Gerung, Lembar, Pemenang, Jerowaru, dan Labuhan Lombok. Pada Pulau Sumbawa, wilayah terdampak tercatat di Sumbawa, Rhee, dan Labuhan Badas. Sementara itu, untuk wilayah Bima, lokasi yang masuk zona risiko antara lain Palibelo, Belo, Woha, Bolo, Lambu, Langgudu, Soromandi, Sape, Rasanae Barat, Hu’u, dan Asakota.

Perkiraan waktu pasang puncak di titik kunci

BMKG memberikan estimasi jam pasang maksimum di beberapa titik untuk memudahkan kewaspadaan lokal. Di Lembar, pasang maksimum diperkirakan terjadi pada rentang pukul 21.00 hingga 02.00 WITA. Di Sape, pasang diprediksi pada pukul 22.00 hingga 05.00 WITA. Waktu‑waktu ini harus dijadikan acuan bagi otoritas desa/kecamatan dan warga pesisir untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan menyiagakan mitigasi darurat.

Penyebab ilmiah: Purnama + Perigee

Fenomena rob kali ini tak lepas dari dua faktor astronomis utama. Pertama, fase Bulan Purnama pada 26 Oktober menyebabkan gaya tarik Matahari dan Bulan bekerja searah sehingga menghasilkan pasang yang lebih tinggi (spring tide). Kedua, perigee pada 29 Oktober—momen ketika Bulan berada pada jarak terdekat dengan Bumi—memperkuat efek gravitasi sehingga menambah tinggi pasang. Kombinasi kedua kejadian ini menjelaskan mengapa pasang maksimum dapat mencapai hingga dua meter di beberapa titik pantai NTB.

Kondisi gelombang dan cuaca saat peringatan

Selain ancaman rob, BMKG mencatat tinggi gelombang di perairan NTB saat ini berkisar antara 0,5 hingga 4 meter, dengan kondisi cuaca berkisar dari cerah berawan hingga hujan ringan. Tingginya gelombang memperbesar risiko abrasi dan kerusakan fasilitas pesisir jika rob terjadi bersamaan dengan gelombang besar, sehingga perlu perhatian ekstra bagi kawasan yang memiliki infrastruktur pantai rendah.

Risiko bagi masyarakat pesisir

Banjir rob membawa beragam dampak langsung: masuknya air laut ke pemukiman pesisir, kerusakan fasilitas pantai, gangguan akses jalan lokal, hingga kontaminasi air tawar. Kelompok rentan—termasuk anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan—harus diberi perhatian khusus. Selain itu, sektor perikanan budidaya dan tambak air payau juga rentan mengalami kerugian akibat intrusi air laut.

Apa yang harus dilakukan warga dan otoritas setempat?

  • Warga pesisir diminta memantau informasi resmi BMKG dan pemerintah daerah secara berkala serta menyiapkan rencana evakuasi mandiri ke titik aman yang lebih tinggi.
  • Pemda dan aparat desa/kecamatan harus memastikan jalur evakuasi bersih, menyiapkan posko darurat dan kebutuhan dasar (termasuk air bersih dan obat-obatan), serta menginformasikan jadwal pasang puncak kepada warga melalui loudspeaker atau kanal komunikasi lokal.
  • Pelaku usaha di pesisir, seperti pemilik tambak dan nelayan, disarankan mengamankan aset dan memindahkan peralatan berharga ke tempat aman sebelum periode pasang maksimum.
  • Fasilitas publik—sekolah, puskesmas, fasilitas listrik—perlu melakukan verifikasi kesiapan operasional pada kemungkinan gangguan layanan akibat intrusi air laut.
  • Peran mitigasi teknis yang sedang dilakukan

    BMKG dan pihak terkait telah mengeluarkan peringatan dini, namun respons di lapangan memerlukan koordinasi lintas instansi. Penyiagaan meliputi pemantauan pasang surut secara real time, koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan peringatan menggunakan jalur komunikasi publik. Selain itu, upaya jangka menengah seperti pemasangan tanggul sementara atau penguatan tanggul yang ada dapat menjadi langkah mitigasi lokal untuk titik‑titik kritis.

    Imbauan kesehatan dan keselamatan

    Pada periode berpotensi rob, BMKG mengimbau masyarakat untuk: menghindari aktivitas di pesisir saat pasang puncak; menggunakan masker jika terjadi percikan atau partikel yang mengganggu pernapasan; dan mengamankan stok air bersih karena sumber air lokal bisa terkontaminasi intrusi air laut. Puskesmas setempat diharapkan menyiapkan layanan darurat untuk kasus hipotermia, luka, dan gangguan pernapasan.

    Pantauan perkembangan dan langkah lanjutan

    BMKG berjanji terus memantau perkembangan pasang surut dan kondisi cuaca, serta memperbarui peringatan jika ada perubahan signifikan. Warga dan pemangku kepentingan di NTB diminta tetap mengikuti informasi resmi dan menghindari desas‑desus yang dapat memicu panik. Koordinasi antara BMKG, BPBD, pemerintah daerah, dan masyarakat jadi kunci utama dalam mengurangi dampak banjir rob yang diprediksi berlangsung hingga 2 November 2026.

    Exit mobile version