WartaExpress

Tawuran Manggarai Meledak Dua Hari Berturut‑turut: Polisi Bilang Kondusif — Tapi Warga Khawatir Balas Dendam

Tawuran di Manggarai Terjadi Dua Hari Berturut‑turut: Polsek Tebet Tegaskan Situasi Kondusif

Insiden tawuran antarwarga kembali terjadi di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, pada awal tahun 2026. Peristiwa yang melibatkan dua kelompok warga dari RW 04 dan RW 012 tersebut berlangsung dua hari berturut‑turut, pertama pada Kamis malam (1/1) dan kemudian berulang pada Jumat sore (2/1). Kepolisian sektor setempat menyatakan kondisi kini aman dan pihak berwenang terus melakukan patroli untuk mencegah eskalasi lanjutan.

Kronologi singkat kejadian

Tawuran pertama dilaporkan terjadi pada Kamis malam sekitar pukul 18.10 WIB. Aksi kembali memanas keesokan harinya, Jumat sore sekitar pukul 15.00 WIB, ketika suara petasan memicu eskalasi di Terowongan Manggarai, Jalan Dr. Soepomo. Sekitar 20 orang dari masing‑masing RW saling berhadapan dan melemparkan batu serta petasan. Polisi datang dan berhasil membubarkan kerumunan; situasi baru dinyatakan aman sekitar pukul 16.10 WIB.

Respons aparat: pembubaran dan patroli lanjutan

Menurut Kapolsek Tebet, Kompol Iwan Gunawan, upaya pengamanan dilakukan cepat untuk mencegah meluasnya bentrokan. Polisi berhasil mendorong mundur kedua kelompok dan mengimbau warga kembali ke rumah masing‑masing. Selain pembubaran, aparat melakukan patroli jalan kaki dari gang ke gang di wilayah terdampak untuk meredam potensi balasan dan menjaga ketenangan warga.

Faktor pemicu dan pola berulang

Dari sejumlah insiden sebelumnya, pola pemicu di Manggarai seringkali melibatkan tindakan provokatif seperti pelemparan petasan atau adu mulut yang cepat memantik emosi kelompok. Daerah permukiman padat seperti Manggarai memiliki sejarah gesekan antar‑warga yang kerap dipicu oleh masalah sepele namun diperburuk oleh solidaritas komunal dan kultur balas dendam lokal. Kondisi ini menjadikan potensi tawuran menjadi masalah berulang jika tidak ditangani lewat pendekatan preventif.

Korban dan kondisi saat ini

Dalam dua hari tersebut polisi melaporkan tidak ada korban jiwa maupun luka serius yang memerlukan penanganan intensif. Meski demikian, tindakan melempar batu dan petasan jelas menimbulkan gangguan keselamatan publik dan risiko cedera yang bisa meningkat jika massa tidak cepat dibubarkan. Keberhasilan evakuasi dan pembubaran dini menjadi faktor penting mencegah angka korban.

Pencegahan jangka pendek: langkah polisi dan masyarakat

Untuk menekan potensi kekerasan susulan, aparat dan masyarakat perlu segera mengambil langkah konkrit:

  • Penempatan patroli intensif di titik rawan pada jam‑jam sensitif (malam hari dan sore hari ketika aktivitas warga tinggi).
  • Peningkatan komunikasi antar RT/RW dan polsek untuk respons cepat saat ada indikasi eskalasi.
  • Pendeteksian sumber provokasi — misalnya penjualan atau penyimpanan petasan di lingkungan — dan penindakan sesuai aturan.
  • Penyuluhan tentang bahaya tawuran dan kampanye perdamaian yang melibatkan tokoh masyarakat, pemuda, dan ulama setempat.
  • Pencegahan jangka menengah: program deradikalisasi kekerasan komunitas

    Tawuran yang berulang mengindikasikan kebutuhan program deradikalisasi kekerasan pada level komunitas. Langkah‑langkah yang bisa ditempuh antara lain:

  • Pembentukan forum dialog RT/RW yang rutin membahas masalah sosial, batas wilayah, dan aturan komunitas.
  • Pemberdayaan kelompok pemuda melalui kegiatan produktif (olahraga, keterampilan) untuk mengurangi waktu luang yang berpotensi dimanfaatkan untuk tindakan anarkis.
  • Pendampingan psikososial bagi keluarga yang terlibat konflik berkepanjangan untuk memutus siklus balas dendam antar generasi.
  • Peran pemerintah daerah dan layanan publik

    Pemprov dan pemkab setempat perlu memfasilitasi upaya pencegahan dengan memperkuat layanan publik: penerangan jalan yang memadai, pengelolaan ruang publik, serta peningkatan akses sosial ekonomi di permukiman padat. Program‑program ketenagakerjaan dan pendidikan vokasional untuk remaja setempat dapat mengurangi keterlibatan dalam tawuran yang bermotif geng atau geng sosial.

    Pembelajaran dari insiden sebelumnya

    Kasus tawuran di Manggarai bukan fenomena baru. Aksi serupa tercatat berulang kali dalam beberapa tahun terakhir, termasuk insiden yang memicu penggunaan gas air mata oleh polisi di terowongan yang sama. Pengalaman ini menggarisbawahi bahwa respons kepolisian bersifat reaktif tetapi upaya preventif kolaboratif antara aparat, masyarakat, dan pemda jauh lebih efektif untuk solusi jangka panjang.

    Apa yang harus diwaspadai warga dan pengunjung

    Bagi warga dan pengunjung area Manggarai, beberapa hal penting perlu diperhatikan saat terjadi potensi tawuran:

  • Hindari berkumpul di lokasi konflik; segera cari tempat aman dan pantau informasi resmi dari kepolisian setempat.
  • Laporkan aktivitas berbahaya (penyimpanan petasan, penggerak massa) kepada RT/RW atau polisi lewat kanal darurat.
  • Jika menjadi saksi, berikan keterangan yang akurat kepada petugas guna mempercepat penanganan dan penegakan hukum.
  • Pantauan ke depan

    Meski situasi saat ini dinyatakan kondusif, kewaspadaan tetap diperlukan. Polisi berkomitmen untuk terus memantau wilayah RW 04 dan RW 012 demi mencegah potensi balas dendam. Langkah selanjutnya yang diharapkan adalah dialog antarwarga difasilitasi aparat untuk meredam ketegangan dan menyusun kesepakatan tata sosial yang mencegah konflik serupa di masa depan.

    Exit mobile version