Telkom Gempur Ketertinggalan UMKM Perempuan: Rahasia Program “Go Digital → Go Global” yang Bikin Omzet Melonjak

Telkom Perkuat Pemberdayaan Perempuan UMKM: Dari Rumah BUMN ke Pasar Digital

PT Telkom Indonesia mempertegas komitmennya dalam mendorong pemberdayaan perempuan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui program pendampingan terstruktur yang dijalankan di berbagai daerah. Inisiatif ini bukan sekadar program sosial rutin, melainkan bagian dari strategi korporat untuk menciptakan ekosistem UMKM yang inklusif, berkelanjutan, dan siap bersaing di era digital.

Model pembinaan terintegrasi: Go Modern, Go Digital, Go Online, Go Global

Pendampingan yang diberikan Telkom mengusung kurikulum berlapis, mulai dari transformasi operasional dasar hingga strategi pemasaran internasional. Program disusun dalam beberapa pilar yang saling melengkapi:

  • Go Modern: meningkatkan standar produksi dan packaging agar produk lebih layak pasar;
  • Go Digital: memperkenalkan alat digitalisasi usaha, pencatatan keuangan digital, dan penggunaan aplikasi manajemen;
  • Go Online: optimalisasi kehadiran di platform e‑commerce dan media sosial untuk memperluas jangkauan;
  • Go Global: pembekalan ekspor, standar kualitas, dan akses ke jaringan distribusi internasional.
  • Pendekatan bertahap ini memungkinkan pelaku usaha perempuan bergerak dari tahap informal menuju usaha yang lebih terstruktur dan siap mengambil peluang pasar yang lebih besar.

    Rumah BUMN Telkom sebagai pusat ekosistem lokal

    Salah satu sarana penting dalam ekosistem pembinaan Telkom adalah keberadaan Rumah BUMN Telkom. Fasilitas ini berfungsi sebagai pusat pelatihan, lokasi inkubasi, dan tempat bertemu bagi pelaku UMKM untuk memperoleh layanan teknis, mentoring bisnis, serta akses ke jaringan pasar dan pendanaan. Peran Rumah BUMN sangat krusial untuk menurunkan hambatan adopsi teknologi dan memberikan pendampingan langsung berbasis kebutuhan lokal.

    Studi kasus: Mbrebes Milli dan Tano Puan — dua wajah pemberdayaan

    Dua contoh konkret dari UMKM binaan Telkom memperlihatkan dampak nyata program ini. Mbrebes Milli, usaha kuliner lokal yang dipimpin oleh Dini Windu Asih, menunjukkan bagaimana komunitas ibu‑ibu dapat terorganisir menjadi unit usaha yang produktif dengan dukungan pelatihan bisnis dan akses pasar. Dari awalnya kegiatan komunitas skala kelurahan, Mbrebes Milli kini mampu mengelola brand dan distribusi lebih profesional.

    Sementara itu, Tano Puan, usaha milik Siska Elvi Yunita, menonjol sebagai contoh model wirausaha berkelanjutan. Berangkat dari pengalaman terdampak konflik lahan gambut, Siska mengembangkan pendekatan sustainable entrepreneurship yang memberdayakan perempuan lokal sekaligus menjaga lingkungan. Pengakuan program di Bumi Berseru Fest 2025 menegaskan bahwa model ini memiliki nilai sosial dan komersial.

    Manfaat ganda: ekonomi dan lingkungan

    Telkom menekankan bahwa pemberdayaan perempuan UMKM bukan sekadar mendorong produktivitas ekonomi, tetapi juga mendorong praktik berkelanjutan. Contoh Tano Puan memperlihatkan sinergi antara pemberdayaan ekonomi perempuan dan konservasi lingkungan. Dalam konteks ini, Telkom mendorong pengembangan model bisnis yang mempertimbangkan aspek sosial dan lingkungan—nilai penting untuk akses pasar premium yang kini semakin menuntut sustainability.

    Digitalisasi sebagai kunci skala dan efisiensi

    Transformasi digital menjadi aspek sentral. Pelatihan penggunaan platform e‑commerce, strategi pemasaran digital, manajemen inventori berbasis aplikasi, hingga pencatatan keuangan digital membuka peluang efisiensi dan transparansi. Bagi perempuan penggerak UMKM, kemampuan digital menentukan akses ke pasar domestik dan internasional. Telkom memfasilitasi adopsi ini melalui pendampingan intensif dan akses ke infrastruktur digital.

    Tantangan implementasi dan rekomendasi praktis

    Implementasi program pemberdayaan perempuan tetap menghadapi hambatan yang perlu dikenali dan diatasi:

  • Keterbatasan literasi digital: perlu modul pelatihan dasar yang mudah dipahami dan disesuaikan konteks lokal;
  • Akses pembiayaan: kolaborasi dengan lembaga keuangan mikro atau program kredit khusus UMKM perempuan menjadi penting;
  • Sustainabilitas program: perlu monitoring jangka panjang dan dukungan lanjutan untuk memastikan hasil tidak berhenti setelah masa pendampingan;
  • Skalabilitas: model yang berhasil perlu didokumentasikan untuk direplikasi di wilayah lain dengan adaptasi budaya setempat.
  • Indikator keberhasilan yang harus diukur

    Agar program memiliki dampak yang terukur, beberapa indikator perlu dipantau secara berkala:

  • Peningkatan omzet dan margin usaha UMKM binaan;
  • Jumlah UMKM yang berhasil masuk platform e‑commerce dan menjaga penjualan berulang;
  • Penyerapan tenaga kerja lokal yang meningkat berkat scale up usaha;
  • Evaluasi kapasitas manajerial: keterampilan pencatatan keuangan, pemasaran digital, dan pengelolaan rantai pasok.
  • Sinergi multi‑pihak untuk masa depan ekonomi inklusif

    Telkom sebagai perusahaan telekomunikasi menempatkan dirinya pada posisi strategis: tidak hanya menyediakan infrastruktur, tetapi juga memfasilitasi ekosistem yang menghubungkan pelaku usaha dengan pasar, modal, dan kapabilitas. Untuk mencapai tujuan inklusif, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci—pemerintah daerah, lembaga keuangan, organisasi masyarakat sipil, hingga pemangku kepentingan korporat lainnya harus bersinergi.

  • Pendampingan terintegrasi meningkatkan kapabilitas perempuan pelaku UMKM.
  • Digitalisasi dan akses pasar adalah penentu utama skala usaha.
  • Model pemberdayaan yang mempertimbangkan aspek lingkungan memiliki nilai tambah komersial.