Pasangan pengantin di Cengkareng memilih bertahan dan melangsungkan resepsi pernikahan meski banjir menggenangi lingkungan mereka. Peristiwa yang terjadi di RW 16 Pedongkelan, Kelurahan Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat itu menjadi bukti betapa tekad keluarga dan dukungan tetangga mampu mengubah suasana putus asa menjadi momen haru yang tak terlupakan.
Kondisi saat banjir dan keputusan sulit
Pagi hari sebelum resepsi, kawasan rumah mempelai wanita masih terendam air hampir setinggi betis orang dewasa. Ela Laela, pengantin wanita, sempat putus asa dan mempertimbangkan untuk membatalkan acaranya. Semua persiapan — katering, rias pengantin, dekorasi — telah diatur jauh hari sebelumnya, sehingga keputusan menghadapi banjir menjadi beban emosional yang besar.
Dukungan keluarga dan semangat bersama
Dalam situasi genting, peran keluarga menjadi penentu. Ayah pengantin wanita tampil sebagai penguat, memberi semangat agar acara tetap dijalankan. Tukang masak dan penyedia jasa lain yang semula ragu akhirnya memutuskan untuk tetap membantu. Sang mempelai pria, Muhadi, bahkan menggendong Ela untuk mengantarkannya ke panggung pelaminan di tengah genangan air — adegan yang menyentuh banyak tamu undangan.
Detik-detik resepsi dan suasana haru
Seiring siang menjelang, permukaan air mulai surut secara bertahap sehingga tamu undangan dapat mulai berdatangan. Ketika resepsi dimulai, suasana berubah menjadi penuh haru dan syukur. Banyak tamu yang terharu melihat perjuangan pengantin menjalani momen penting di tengah kondisi sulit. Dukungan dari keluarga, termasuk kerabat yang datang dari Pandeglang, memperkuat momen kebahagiaan itu.
Pelajaran praktis untuk menghadapi pernikahan saat banjir
Kasus ini menyisakan beberapa pelajaran penting bagi pasangan yang merencanakan acara di wilayah rawan banjir:
Respons lingkungan dan otoritas setempat
Walau berita ini menyorot sisi kemanusiaan dan keteguhan pasangan, kondisi banjir di Jakarta Barat menjadi pengingat akan tantangan infrastruktur dan pengelolaan air di wilayah perkotaan. Petugas kebersihan, RT/RW, dan warga saling bahu-membahu membantu evakuasi ringan dan pengamanan area. Namun, kebutuhan akan solusi jangka panjang seperti sistem drainase yang lebih efektif dan mitigasi banjir tetap mendesak.
Dampak emosional dan simbolisme momen
Untuk Ela dan Muhadi, resepsi yang berlangsung di tengah genangan bukan sekadar acara sosial: ia menjadi simbol keteguhan dan optimisme. Momentumnya mengajarkan bahwa pernikahan adalah soal komitmen dan saling menopang saat menghadapi situasi tak terduga. Banyak tamu yang mengaku terharu melihat kegigihan pasangan, dan cerita ini cepat menyebar sebagai kisah inspiratif di lingkungan sekitar.
Catatan akhir mengenai kesiapsiagaan acara
Pengalaman pasangan ini menggarisbawahi pentingnya kesiapsiagaan dalam merencanakan acara besar di wilayah rawan bencana atau cuaca ekstrem. Menyusun rencana darurat, menjalin komunikasi intens dengan vendor, dan memastikan dukungan keluarga dapat membuat perbedaan antara pembatalan dan kelangsungan acara yang aman dan bermakna. Di tengah tantangan, semangat kolektif dan rasa syukur mampu mengubah situasi sulit menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi semua pihak.
