WartaExpress

Waspada! Modus Phishing Situs Palsu Menjerat Nasabah BCA — Begini Cara Penipu Menguras Miliaran Rupiah

Bank Central Asia (BCA) mengeluarkan imbauan tegas kepada nasabah agar selalu waspada terhadap modus penipuan yang kini semakin canggih, terutama phishing lewat situs web palsu yang meniru tampilan layanan perbankan resmi. Peringatan ini muncul menyusul laporan sejumlah nasabah bisnis yang mengalami kehilangan dana setelah terjebak di halaman web tiruan yang tampak nyaris identik dengan KlikBCA Bisnis.

Kronologi kasus dan pola serangan

Kasus yang ramai dibicarakan di media sosial melibatkan nasabah yang mencoba mengakses layanan KlikBCA Bisnis melalui tautan yang ditemukan lewat mesin pencari atau tautan palsu yang menyerupai alamat resmi. Dalam beberapa peristiwa, alamat situs berawalan karakter atau subdomain yang mirip—misalnya diawali “vpk”—membuat pengguna tidak menyadari perbedaan. Setelah memasukkan kredensial, transaksi yang seharusnya ditujukan ke rekening resmi justru dialihkan ke rekening penipu.

Selain itu, ada juga laporan bahwa korban diminta menggunakan alamat tertentu seperti vpn.klikbca.com, yang pada kenyataannya merupakan jebakan. Pelaku memanfaatkan teknik rekayasa sosial (social engineering) untuk mengelabui korban dan memancing mereka memasukkan data sensitif.

Imbauan resmi BCA

Hera F. Haryn, Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, menegaskan bahwa bank telah melakukan investigasi awal bersama nasabah yang terdampak dan memastikan sistem BCA tetap aman. Namun, ia mengingatkan pentingnya kewaspadaan personal dari nasabah.

Beberapa poin penting yang disampaikan BCA kepada nasabah antara lain:

  • Jangan pernah membagikan data rahasia seperti Appli Token Key BCA, PIN, OTP, dan password kepada pihak manapun.
  • Pastikan hanya mengakses layanan melalui kanal resmi BCA: aplikasi haloBCA, nomor resmi Halo BCA 1500888 (tanpa kode lain), WhatsApp resmi Bank BCA 08111500998 (akun terverifikasi centang biru), Instagram @goodlifebca (akun terverifikasi centang biru), dan website resmi www.bca.co.id.
  • Waspadai tautan hasil pencarian yang tampak mirip dengan alamat resmi; cek kembali domain secara seksama dan hindari memasukkan data lewat tautan yang dikirim oleh pihak tak dikenal.
  • Modus teknis dan rekayasa sosial yang sering dipakai

    Phishing lewat website palsu biasanya melibatkan beberapa unsur teknis dan psikologis:

  • Pembuatan domain mirip (typosquatting) yang memanfaatkan kesalahan ketik pengguna untuk menipu.
  • Desain tampilan yang meniru persis UI situs resmi sehingga pengguna cepat percaya.
  • Pesan darurat atau instruksi mendesak yang mendorong pengguna untuk segera memasukkan data tanpa berpikir panjang.
  • Penggunaan mesin pencari dan iklan berbayar untuk meningkatkan visibilitas situs palsu.
  • Kombinasi unsur di atas membuat korban relatif mudah terperdaya, terutama ketika dilakukan pada akun bisnis yang rutin melakukan transaksi besar sehingga kebiasaan akses cepat rentan dimanfaatkan.

    Tindakan yang harus dilakukan korban dan nasabah pada umumnya

    Jika menduga menjadi korban phishing atau menemukan aktivitas mencurigakan, nasabah disarankan mengambil langkah segera:

  • Segera hubungi Halo BCA melalui nomor resmi 1500888 untuk melaporkan kejadian dan meminta pemblokiran akses jika perlu.
  • Jangan panik—catat semua detail, termasuk alamat situs palsu, screenshot halaman, dan waktu kejadian untuk keperluan investigasi.
  • Periksa dan audit aktivitas rekening secara berkala, terutama ketika menggunakan fasilitas KlikBCA Bisnis untuk transaksi payroll atau pembayaran besar.
  • Ganti semua kredensial akses dan pertimbangkan pengamanan tambahan seperti token perangkat keras jika tersedia.
  • Laporkan kejadian ke pihak berwajib jika terdapat indikasi penipuan besar atau transfer dana ke rekening teridentifikasi sebagai milik penipu.
  • Peran edukasi dan langkah preventif organisasi

    Kasus ini juga menyoroti pentingnya edukasi keamanan siber, terlebih untuk nasabah korporasi yang sering berurusan dengan transfer besar. Perusahaan perlu menerapkan kebijakan internal yang ketat, misalnya:

  • Prosedur verifikasi ganda untuk transaksi di atas batas tertentu.
  • Pelatihan rutin kepada karyawan tentang praktik aman mengakses layanan perbankan online.
  • Penggunaan VPN perusahaan yang terpercaya dan daftar whitelist domain resmi untuk akses finansial.
  • Pengaturan autentikasi multi‑faktor (MFA) yang robust dan pemantauan anomali transaksi secara real‑time.
  • Implikasi reputasi dan kepercayaan

    Bagi perbankan, insiden phishing meski bukan bukti adanya celah teknis internal, tetap dapat merusak kepercayaan nasabah. Oleh karena itu, transparansi komunikasi dan langkah mitigasi yang cepat menjadi kunci. BCA telah menyatakan sistemnya aman, namun perbaikan berkelanjutan dalam komunikasi kepada nasabah dan fitur keamanan akan memperkecil risiko kejadian serupa di masa depan.

    Kiat praktis agar tidak menjadi korban

  • Selalu ketik alamat resmi di browser atau gunakan aplikasi resmi; jangan klik tautan sembarangan.
  • Periksa tanda keamanan pada browser seperti protokol HTTPS dan keberadaan sertifikat yang valid.
  • Waspadai permintaan data yang tidak lazim melalui email, pesan singkat, atau telepon yang mengaku dari bank.
  • Aktifkan notifikasi transaksi via SMS atau aplikasi untuk memantau pergerakan dana secara real time.
  • Selalu lakukan cross‑check dengan kontak resmi bank ketika menerima instruksi transfer tidak biasa.
  • Keamanan perbankan digital adalah tanggung jawab bersama: lembaga finansial harus menyediakan sistem dan edukasi, sementara nasabah harus menjaga disiplin keamanan digital. Kasus phishing terhadap nasabah bisnis ini menjadi pengingat bahwa kewaspadaan tetap menjadi garis pertahanan pertama dalam melindungi aset dan data finansial.

    Exit mobile version