Korps Samapta Baharkam Polri meningkatkan kesiapsiagaan menjelang potensi dampak lanjutan erupsi Gunung Anak Krakatau. Dalam apel kesiapan tanggap darurat yang dipimpin Kakorsabhara Irjen Pol Nazli, diputuskan pengerahan 299 personel beserta 10 anjing K9, kendaraan rescue, kendaraan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), dapur lapangan, serta berbagai peralatan SAR untuk memperkuat respons di wilayah terdampak.
1. Dimensi kesiapsiagaan yang dikerahkan
Penyiapan korps Samapta tidak sekadar numerik. Personel yang disiagakan mencakup tim patroli, SAR, perintis, unit satwa (K9), dan unsur pendukung operasional. Kendaraan rescue dan peralatan SAR disiapkan untuk memfasilitasi pencarian, evakuasi, dan penanganan darurat di lokasi‑lokasi terdampak, termasuk permukiman, jalur lalu lintas, kawasan pesisir, serta titik kritis yang rentan terhadap gangguan mobilitas.
2. Fokus wilayah dan koordinasi antar polda
Perintah kesiapsiagaan diarahkan khusus kepada Dirsabhara/Dirsampata Polda Banten, Polda Lampung, dan Polda Metro Jaya untuk menggelar apel kesiapsiagaan pasukan. Hal ini menandakan pola operasi lintas wilayah yang diantisipasi, mengingat sebaran abu vulkanik telah mencapai beberapa provinsi dan berpotensi mengganggu transportasi, kesehatan publik, serta aksesibilitas masyarakat.
3. Peran K9 dan unit SAR dalam skenario erupsi
Peran anjing K9 dan unit SAR sangat krusial dalam operasi darurat yang melibatkan evakuasi dan pencarian korban, terutama bila akses ke lokasi terhambat oleh abu tebal atau gangguan infrastruktur. Anjing K9 memberikan keunggulan dalam deteksi cepat, sedangkan tim SAR memiliki kapabilitas evakuasi dan pertolongan teknis.
4. Dampak operasional: dari kesehatan publik hingga transportasi
Erupsi yang terus berlangsung dan sebaran abu vulkanik berdampak langsung pada berbagai sektor. Selain potensi gangguan kesehatan pernapasan, abu vulkanik juga mengganggu penerbangan hingga menimbulkan pembatalan atau pengalihan rute. Kesiapsiagaan polisi di lapangan meliputi mitigasi hambatan mobilitas dan dukungan pada rute evakuasi serta pusat layanan darurat.
5. Mekanisme layanan darurat bagi masyarakat
Polri mengimbau masyarakat yang membutuhkan bantuan untuk menghubungi layanan Polisi 110. Layanan ini menjadi saluran utama untuk melapor kondisi darurat, meminta evakuasi, atau melaporkan hambatan akses. Masyarakat diminta memberikan informasi lokasi yang jelas, kondisi yang dihadapi, kebutuhan bantuan, serta nomor kontak yang dapat dihubungi agar respons dapat ditindaklanjuti lebih cepat.
6. Kenyataan operasional: antisipasi erupsi susulan dan sebaran abu
Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berada pada Level III (Siaga) setelah erupsi yang berlangsung intensif membuat potensi erupsi susulan tetap tinggi. Dalam 25 jam terakhir aktivitas masih terus dipantau. Kesiapsiagaan Polri bukan hanya soal penanganan sesaat, melainkan kesiapan berkelanjutan menghadapi fluktuasi status gunung dan dampak luasnya termasuk pada bandara, layanan publik, dan keselamatan warga pesisir.
7. Pesan kunci untuk publik
Polri hadir untuk memastikan masyarakat tidak menghadapi situasi darurat sendirian. Keberadaan tim Samapta Baharkam yang siap digerakkan menunjukkan upaya negara menjamin keamanan, bantuan, dan layanan darurat. Namun peran aktif warga tetap diperlukan: memantau informasi resmi, menyiapkan perlindungan diri seperti masker, dan segera melapor bila membutuhkan bantuan.
Dengan penguatan personel, unit K9, dan peralatan SAR, Polri menegaskan kesiapan responsnya untuk mengatasi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Kecepatan koordinasi antar instansi dan partisipasi masyarakat akan menjadi penentu efektifitas operasi ke depan.
