Fenomena blue fire yang muncul di Kawah Manuk, Kompleks Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, akhir pekan lalu memicu kewaspadaan serius dari Badan Geologi Kementerian ESDM. Meski kilauan api biru itu kini dilaporkan meredup, pelepasan gas vulkanik beracun tetap berlangsung intensif di area kawah baru—sebuah kondisi yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi pengunjung dan pendaki bila tidak ditangani dengan benar.
Apa itu fenomena blue fire di Papandayan?
Blue fire adalah pendaran semburan api berwarna biru yang muncul saat material permukaan terbakar akibat pelepasan energi panas dan gas vulkanik. Di Papandayan, fenomena ini teramati sejak dini hari 24 September 2026 di titik manifestasi panas baru Kawah Manuk. Menurut catatan, kejadian serupa sebelumnya tercatat pada 22 Februari 2023 dan 12 Juli 2025, serta dikenal pula fenomena mirip di Gunung Ijen.
Data pemantauan terkini dan kondisi gas vulkanik
Pemantauan terakhir per 26 September menunjukkan bahwa pendaran blue fire telah padam. Namun, pengukuran rasio gas di Kawah Mas belum menunjukkan perubahan signifikan pada sistem hidrotermal bawah permukaan. Meski demikian, pelepasan gas vulkanik berbahaya dilaporkan masih intensif—bukti yang diperkuat dengan adanya bau belerang yang menyengat pada arah angin dari lokasi manifestasi.
Potensi bahaya bagi pengunjung dan masyarakat sekitar
Rekomendasi Badan Geologi—empat poin keselamatan utama
Badan Geologi menerbitkan empat rekomendasi keselamatan yang harus dipatuhi oleh pengunjung dan pengelola TWA Gunung Papandayan:
Analisis teknis: mengapa gas masih keluar meski blue fire padam?
Pendaran blue fire menunjukkan adanya pelepasan energi panas pada titik permukaan yang membakar material organik atau batuan kaya sulfur. Namun, padamnya pendaran tidak otomatis berarti sistem hidrotermal bawah permukaan kembali normal. Pelepasan gas dapat berlanjut karena aliran gas dari rekahan bawah tanah yang tetap aktif. Gas‑gas ini, meskipun tidak lagi membakar, tetap berbahaya dalam konsentrasi tinggi—terutama di cekungan atau area tertutup di sekitar kawah.
Tindakan mitigasi yang diperlukan jangka pendek
Pesan praktis untuk pengunjung dan pendaki
Implikasi pariwisata dan pengelolaan kawasan
Kombinasi antara fenomena alam langka dan risiko kesehatan memunculkan tantangan bagi pengelolaan pariwisata berbasis alam. Pengelola harus menyeimbangkan nilai edukatif dan atraksi pengunjung dengan kewajiban menjaga keselamatan. Penegakan radius aman, edukasi pengunjung, dan transparansi data pemantauan akan menjadi kunci menjaga kredibilitas dan keselamatan pengunjung jangka panjang.
Badan Geologi menegaskan status Gunung Papandayan pada Level I (Normal) untuk saat ini, namun juga mengingatkan bahwa kondisi bisa berubah cepat. Oleh karena itu, kewaspadaan semua pihak—pengelola, wisatawan, dan masyarakat lokal—harus tetap tinggi dan berbasis data ilmiah serta rekomendasi teknis yang dikeluarkan otoritas.
