Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menutup Kota Jambi pada pekan ketiga September 2026. Kondisi ini bukan sekadar gangguan visual—kualitas udara sudah menembus kategori “sangat tidak sehat” menurut indeks ISPU di stasiun pemantau dekat Kantor Wali Kota. Dampaknya langsung terasa: lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), pembatasan aktivitas publik, hingga penghentian pembelajaran tatap muka. Berikut analisis lengkap soal penyebab, dampak kesehatan, langkah penanganan darurat, serta rekomendasi mitigasi yang dapat diterapkan oleh otoritas dan masyarakat.
Penyebab dan karakter polusi: peran PM2.5
Kabut asap di Jambi kali ini didominasi oleh konsentrasi partikel halus PM2.5—partikulat berukuran kurang dari 2,5 mikrometer yang mampu menembus saluran pernapasan hingga alveoli dan bahkan memasuki aliran darah. Sumber utama adalah api dari lahan gambut dan lahan terbuka yang terbakar, baik yang disengaja maupun akibat kelalaian. Karakter partikel ini membuat dampak kesehatan lebih serius dibandingkan debu kasar: PM2.5 meningkatkan risiko ISPA, eksaserbasi penyakit paru kronis, dan berpengaruh pada sistem kardiovaskular.
Dampak kesehatan: lonjakan kasus ISPA dan kelompok rentan
Data Dinas Kesehatan Kota Jambi menunjukkan lonjakan signifikan: lebih dari 6.500 kasus ISPA tercatat hingga pertengahan September, meningkat pesat dari sekitar 3.400 pada awal bulan. Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, penderita asma atau penyakit paru kronik, serta pekerja lapangan yang terpapar lama. Gejala yang umum dilaporkan meliputi batuk, napas pendek, iritasi mata dan tenggorokan, serta demam di beberapa kasus.
Dampak operasional: sekolah libur dan gangguan transportasi
Sebagai respons cepat, Pemerintah Kota Jambi memutuskan meliburkan sekolah secara tatap muka dan mengalihkan pembelajaran ke daring mulai Senin, 21 September. Keputusan ini bertujuan melindungi anak-anak dari paparan berbahaya. Selain itu, bandara lokal sempat mengalami penundaan penerbangan ketika jarak pandang turun drastis—fenomena yang juga menganggu aktivitas pelayaran di Sungai Batanghari.
Langkah darurat yang telah diambil
Langkah pencegahan individu dan keluarga
Dalam kondisi kualitas udara sangat tidak sehat, tindakan perlindungan personal penting dilakukan:
Tindakan jangka menengah: mitigasi dan penanggulangan karhutla
Untuk mengurangi kejadian serupa di masa depan, langkah sistematis diperlukan:
Peran sekolah dan institusi pendidikan saat darurat
Sekolah yang dialihkan ke pembelajaran daring perlu dukungan teknis dan kebijakan agar proses belajar tetap efektif. Beberapa langkah praktis:
Rekomendasi kebijakan publik
Kabut asap di Jambi kali ini menegaskan kembali bahwa karhutla bukan sekadar isu lingkungan, melainkan masalah kesehatan dan sosial-ekonomi yang memerlukan respons terintegrasi. Selain tindakan darurat, upaya pencegahan jangka panjang dan reformasi tata kelola lahan menjadi kunci agar masyarakat tidak terus berulang kali menanggung beban akibat bencana yang sebagian besar bisa dicegah.
