Indonesia punya peluang nyata menjadi liquidity hub aset kripto di kawasan Asia Tenggara. Pernyataan ini disampaikan oleh James Eugene, Vice President of Business Development Indodax, dalam panel diskusi Indonesia Blockchain Week (IDBW) 2026. Dorongan utama berasal dari pasar domestik yang besar dan minat proyek blockchain global untuk menjajaki potensi di Tanah Air. Namun untuk merealisasikan posisi strategis itu, diperlukan penguatan ekosistem di beberapa bidang kunci: builders, likuiditas, dan kepastian regulasi.
Kenapa Indonesia menarik bagi proyek kripto global?
Pasar kripto domestik menunjukkan aktivitas yang tinggi, baik dari sisi jumlah pengguna, volume transaksi, maupun minat investasi ritel. Faktor demografis—populasi besar dengan penetrasi internet yang terus meningkat—membuat Indonesia menjadi pasar dengan potensi likuiditas yang signifikan. James Eugene menekankan bahwa proyek global kini melihat Indonesia bukan sekadar pasar konsumtif, melainkan juga sumber likuiditas yang mampu mendukung penawaran token dan produk on‑chain.
Apa saja kelemahan yang harus diatasi?
Meski peluang ada, membangun peran sebagai liquidity hub bukan sekadar menyambut permintaan. James memetakan beberapa tantangan yang harus diatasi:
Peran builders dan venture capital
James menegaskan dua pilar penting: lebih banyak builders yang membangun infrastruktur dan produk yang kompetitif secara global, dan dukungan modal yang kontinu dari venture capital. Builders diperlukan untuk menciptakan likuiditas organik melalui produk yang relevan—seperti DEX, liquidity pools, bridge yang aman, dan solusi custody yang sesuai standar institusi. VC memainkan peran vital dalam menyediakan modal awal dan jaringan yang mempercepat adopsi lintas batas.
Keseimbangan antara inovasi dan kepatuhan
Menurut James, exchange dan ekosistem lokal harus menemukan “sweet spot” antara mendorong inovasi dan menjaga kepatuhan. Perlindungan konsumen tetap menjadi prioritas utama. Ini berarti proyek dan produk baru harus melalui proses seleksi dan mekanisme perlindungan yang memadai agar tidak merusak kepercayaan pasar. Regulasi yang jelas dan implementatif akan membantu menyaring proyek berkualitas dan mengurangi praktik predatori yang bisa menggerus likuiditas jangka panjang.
Langkah praktis untuk memperkuat posisi liquidity hub
Manfaat jika berhasil
Jika Indonesia mampu memperbaiki ketiga pilar utama—builders, likuiditas, regulasi—manfaatnya berlapis. Pertama, peningkatan arus modal dan aktivitas ekonomi digital domestik. Kedua, munculnya startup‑startup blockchain lokal yang kompetitif di level global. Ketiga, diversifikasi sumber pendanaan melalui instrumen tokenized assets yang dapat membuka akses pendanaan bagi korporasi dan usaha menengah.
Risiko jika tak bertindak cepat
Tanpa aksi nyata, peluang likuiditas bisa diserap oleh negara tetangga yang bergerak lebih cepat (mis. Singapura atau Uni Emirat Arab). Selain itu, ketidakpastian regulasi bisa membuat proyek global ragu menempatkan likuiditas atau operasionalnya di Indonesia, sehingga potensi pasar domestik hanya menjadi konsumtif tanpa menjadi pusat transaksi regional.
Apa yang harus diharapkan dari pemangku kepentingan?
Indonesia memiliki modal awal yang kuat: pasar pengguna yang besar, minat proyek global, dan pelaku lokal yang mulai matang. Kunci keberhasilan adalah bertransisi dari potensi ke aksi terkoordinasi—menggabungkan penguatan teknis, dukungan modal, dan kepastian regulasi. Jika semua elemen ini disinkronkan, Indonesia bisa mengambil peran sentral sebagai liquidity hub aset kripto di kawasan, bukan hanya sebagai pasar konsumen besar semata.
