Mahasiswa hadirkan kebijakan riil untuk atasi polusi: hasil Clean Air Policy Competition
Kompetisi “Clean Air for All: Advancing Urban Sustainability Solutions” yang digelar oleh organisasi advokasi kualitas udara Bicara Udara menempatkan mahasiswa sebagai aktor utama dalam merumuskan solusi kebijakan pengendalian polusi udara. Acara ini bukan sekadar lomba akademis: melalui rangkaian seleksi, mentoring, dan final di Gedung Grha Ali Sadikin, para peserta menghadirkan rekomendasi berbasis data yang siap diuji sebagai masukan kebijakan pemerintah.
Tujuan kompetisi dan peran Bicara Udara
Bicara Udara mendesain program Biru Voice dan kompetisi ini untuk membentuk generasi muda—Clean Air Advocates—yang peka terhadap isu kualitas udara dan mampu merancang kebijakan praktis. Pendekatan ini menekankan bahwa solusi polusi tidak cukup bersifat teknis atau proyek satu pihak: diperlukan keterlibatan lintas sektor dan pendekatan kebijakan yang terukur serta berkelanjutan.
Peran juri dan nilai-nilai penilaian
Kompetisi menghadirkan juri dari berbagai latar, termasuk akademisi Universitas Indonesia dan tokoh publik seperti Julian Aldrin Pasha, serta perwakilan organisasi advokasi lingkungan seperti Yayasan Bakti Barito. Dalam penilaian, juri menekankan pentingnya:
Ragam isu yang diangkat finalis: dari pembiayaan hingga perlindungan rentan
Sepuluh tim finalis yang lolos mempresentasikan ide‑ide kebijakan yang mencerminkan kompleksitas masalah polusi perkotaan. Topik yang muncul antara lain:
Pemenang dan gagasan unggul: Dual Track Decarbonization
Juara 1 diraih oleh tim Duarr dari Politeknik Keuangan Negara STAN dengan gagasan berjudul “Dual Track Decarbonization: Menata Insentif dan Disinsentif Pengendalian Polusi Udara di Jabodetabek”. Konsep ini memadukan mekanisme insentif untuk adopsi teknologi bersih dan disinsentif fiskal bagi sumber polusi tinggi, disertai skema pembiayaan transisi yang melibatkan sektor publik dan swasta.
Kenapa pendekatan dual track penting?
Pembaruan kebijakan yang hanya mengandalkan hukuman cenderung menimbulkan resistensi. Pendekatan dual track yang menggabungkan insentif (subsidi, kredit hijau, keringanan pajak) dan disinsentif (pengetatan pajak emisi, sanksi administrasi) memberi opsi bagi pelaku usaha dan masyarakat untuk bertransisi secara bertahap. Ide ini juga menekankan kebutuhan dana transisi—baik untuk infrastruktur energi bersih, transportasi publik, maupun program konversi armada kendaraan komersial.
Peran data dan integrasi lintas sektor
Salah satu benang merah rekomendasi adalah kebutuhan integrasi data kualitas udara dengan indikator kesehatan. Integrasi ini memungkinkan kebijakan yang bersifat prediktif dan responsif—misalnya, penentuan zona proteksi kesehatan, peringatan dini untuk kelompok rentan, serta prioritisasi intervensi di lokasi dengan angka beban penyakit terkait polusi tinggi.
Implementasi: tantangan dan langkah praktis
Para juri dan pembimbing menggarisbawahi beberapa tantangan implementasi yang perlu diantisipasi:
Langkah praktis yang diusulkan mencakup pilot project berbasis kota, pembentukan platform data terpadu, dan skema co‑financing yang melibatkan investor swasta serta mekanisme insentif fiskal sementara.
Nilai edukatif kompetisi: membentuk advokat udara bersih
Menurut Julian Aldrin Pasha, pengalaman kompetisi bukan sekadar kompetisi akademik, melainkan proses pembelajaran yang menguatkan kapasitas mahasiswa untuk memahami problem framing, analisis bukti, dan penyusunan rekomendasi kebijakan yang komunikatif. Hal ini penting karena transformasi kebijakan memerlukan pengusulan yang matang dan argumentatif—bukan sekadar idealisme teknis.
Peran organisasi filantropi: Yayasan Bakti Barito
Yayasan Bakti Barito menyambut baik pendekatan analitis dari peserta. Dukungan filantropi seperti ini membantu menjembatani aspek edukasi dengan aksi lapangan, termasuk program advokasi, kampanye publik, dan dukungan teknis bagi implementasi rekomendasi yang terpilih.
Rekomendasi untuk pemangku kepentingan
Pesan kepada pembuat kebijakan
Clean Air Policy Competition membuktikan bahwa generasi muda Indonesia bukan hanya kritikus melainkan juga inovator kebijakan. Rekomendasi yang lahir dari kompetisi ini seharusnya menjadi sumber inspirasi konkret bagi pembuat kebijakan — sebuah modal untuk memperkuat tata kelola udara bersih yang lebih terukur, partisipatif, dan berkelanjutan.
