Di Nganjuk, sebuah pabrik manufaktur tekstil menunjukkan bahwa limbah industri tidak selalu berujung jadi masalah — melainkan bisa menjadi komoditas bernilai tinggi. PT Mitra Saruta Indonesia, yang beroperasi di wilayah tersebut, memproses sisa kain produksi menjadi benang dan produk jadi, lalu mengekspornya ke 32 negara. Model bisnis ini bukan sekadar ukur‑ukur hijau; ia juga membuka ruang ekonomi baru bagi UMKM pemasok bahan baku dan memperkuat rantai pasok tekstil nasional.
Menjadi nilai tambah dari sisa produksi, bukan pakaian bekas
Direktur PT Mitra Saruta Indonesia, Hoo Yanto Andrian, menegaskan satu hal penting: bahan baku perusahaan bukan berasal dari pakaian bekas konsumsi, melainkan dari sisa produksi pabrik tekstil — potongan kain dan offcut yang dikumpulkan dari lebih 100 UKM serta pengepul lokal. Pendekatan ini menghindarkan isu kontaminasi dan standar kualitas yang sering diasosiasikan dengan tekstil daur ulang dari pakaian bekas.
Dengan basis bahan baku yang relatif seragam, proses produksi dapat distandarisasi sehingga produk akhir — baik benang hingga sarung tangan dan kain rajut — memenuhi spesifikasi pasar ekspor. Pendek kata, ini bukan sekadar daur ulang untuk menutup masalah limbah, melainkan industrialisasi limbah menjadi produk komersial berkualitas.
Kapasitas dan teknologi: 3.000 ton per hari dan 32 mesin utama
Skala operasi Mitra Saruta mengejutkan: perusahaan mengoperasikan 32 unit mesin dalam proses daur ulang end‑to‑end dengan kapasitas total mencapai sekitar 3.000 ton per hari. Dari volume tersebut, sekitar 1.000 ton diproses menjadi produk jadi seperti sarung tangan, kain rajut, dan pakaian; sisanya diekspor dalam bentuk benang dan sebagian produk setengah jadi.
Skala besar ini dimungkinkan oleh investasi mesin otomatis dan modernisasi lini produksi, sebagian didukung pembiayaan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Automasi tidak hanya menaikkan efisiensi produksi tetapi juga membantu memastikan konsistensi mutu yang sangat penting untuk pasar ekspor.
Pasar ekspor: Jepang sebagai pasar utama dan 31 negara lain
Produk Mitra Saruta telah menembus pasar internasional luas, dengan Jepang sebagai pasar utama. Selain Jepang, tujuan ekspor meliputi Amerika Serikat, Rusia, dan puluhan negara lain — total 32 negara. Per bulan, perusahaan mengirim hampir 100 kontainer ke luar negeri, angka yang menunjukkan kapasitas ekspor signifikan dan jaringan distribusi global yang terbangun.
Ekspor benang sebagai produk utama juga memberi fleksibilitas pasar: benang dapat diserap oleh beragam industri manufaktur tekstil pada kondisi pasar yang berfluktuasi, sehingga Mitra Saruta tidak terlalu bergantung pada permintaan lokal untuk produk jadi saja.
Dampak terhadap UKM dan ekosistem lokal
Salah satu efek penting model Mitra Saruta adalah penciptaan ekosistem pemasok lokal. Lebih dari 100 UKM dan pengepul di sekitar pabrik menjadi sumber bahan baku; model ini menyediakan aliran pendapatan baru bagi usaha kecil sekaligus mengurangi limbah yang sebelumnya mungkin dibuang.
Peran pembiayaan dan insentif dalam ekspansi
Perjalanan Mitra Saruta dari industri kecil dengan sekitar 20 mesin menjadi pabrik besar selama 36 tahun tidak terlepas dari suntikan modal dan dukungan kebijakan. LPEI berperan sebagai penyokong pembiayaan, membantu perusahaan melakukan investasi pada mesin otomatis dan meningkatkan kapasitas ekspor. Dukungan semacam ini menunjukkan peran pemerintah dan lembaga keuangan negara dalam mendorong eksportir nasional untuk naik kelas.
Selain pembiayaan, insentif pajak dan kemudahan birokrasi juga disebut sebagai faktor pendukung. Kombinasi modal, teknologi, dan kebijakan pro‑ekspor ini mempercepat transformasi perusahaan dan membuka peluang skala global.
Tantangan kualitas, keberlanjutan, dan jejak lingkungan
Meskipun kisah sukses ini menjanjikan, ada beberapa area yang perlu diperhatikan untuk memastikan kesinambungan usaha:
Pelajaran untuk industri tekstil Indonesia
Kasus PT Mitra Saruta menawarkan sejumlah pelajaran strategis bagi industri tekstil nasional:
Bagi Nganjuk, kehadiran pabrik seperti Mitra Saruta bukan hanya soal angka ekspor: ini soal transformasi ekonomi lokal, penciptaan nilai dari limbah, dan bukti bahwa industri berkelanjutan dapat menjadi pendorong utama ekspor. Ke depan, kunci keberlanjutan adalah menjaga keseimbangan antara peningkatan kapasitas produksi dan pengelolaan lingkungan serta memperkuat jaringan pemasaran global agar manfaat ekonomi tersebar lebih luas.
